radio muadz 94,3 fm kendari

radio muadz 94,3 fm kendari
radio muadz 94,3 fm kendari

October 27, 2011

Batik Fraktal


BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Bangsa Indonesia memiliki kekayaan budaya yang luar biasa. Keberagaman dan kekhasan budaya dari setiap suku bangsa merupakan aset yang tidak terhitung jumlahnya. Warisan budaya (cultural heritage) merupakan bagian dari keberagaman dan kekhasan yang dimiliki oleh setiap suku bangsa di Indonesia. Warisan budaya dapat pula ditafsirkan sebagai bagian inti dari jati diri suatu bangsa. Dengan kata lain, martabat suatu bangsa ditentukan oleh kebudayaannya yang mencakup unsur-unsur yang ada di dalamnya.
Warisan budaya adalah kekayaan bangsa Indonesia yang harus kita pelihara dan kembangkan. Warisan budaya yang kita miliki bersama ini sangat bernilai sosial dan ekonomi. Kita tidak pernah memikirkan bahwa sebetulnya khazanah budaya, baik yang berbentuk artefak-kebendaan (tangible) maupun yang non-kebendaan (intangible), sesungguhnya menyimpan potensi yang luar biasa untuk dikembangkan (Sedyawati, 2003: xi—xiii).
Indonesia harus dapat memanfaatkan setiap peluang untuk mengembangkan warisan budaya bangsa menjadi sebuah aset berharga bagi pertumbuhan sosial. Kemajemukan budaya Indonesia sangat bernilai dan berpeluang menjadi investasi besar bagi pengembangan daya saing bangsa. Hal itu akan berdampak pula pada peningkatan potensi keunggulan bangsa yang luar biasa.
Pada saat ini, pemahaman tentang peran budaya dapat mengubah banyak hal (termasuk perekonomian kita) mulai banyak dibicarakan oleh orang. Banyak orang mulai berpikir tentang cara untuk menghasilkan sesuatu yang kreatif dan inovatif, tetapi tetap menonjolkan budaya bangsa. Pernyataan tersebut sejalan dengan kutipan berikut.
Para ahli semakin memahami peran budaya dalam mengubah banyak hal, termasuk perekonomian suatu bangsa. Mereka bertolak dari kenyataan bahwa pembangunan ekonomi selama ini terbukti tidak dapat memperbaiki kualitas hidup manusia secara ideal dan bahkan membuat masyarakat jadi amat bergantung pada birokrasi sentralistik yang memiliki berbagai fasilitas dan akses. Selain itu, perubahan dari budaya agraris ke budaya industri dan budaya pascaindustri telah menyebabkan perubahan dalam tata kehidupan masyarakat, termasuk masyarakat Indonesia. Secara sistematis dan terstruktur, pendekatan ekonometrik yang sangat sentralistik (khususnya di Indonesia) telah meniadakan potensi lokal untuk memperlihatkan kekuatan dan sekaligus keunggulan komparatifnya (Pudentia, 2008: 3).
Batik merupakan salah satu warisan budaya Indonesia yang juga merupakan identitas bangsa. Dewasa ini, kehadiran batik sudah mendapat penghormatan dari dunia internasional. Batik tidak hanya dapat ditemukan di Indonesia, tetapi juga dapat ditemukan di beberapa negara lain. Namun demikian, jika ditanya mengenai batik yang unik (dalam hal proses pembuatan batik tradisional) dan berkarakter (dalam hal motif dan pakem), jawaban yang pasti adalah batik Indonesia. Sebagai sebuah warisan budaya bangsa Indonesia, batik mengalami perkembangan dari waktu ke waktu. Perkembangan itu membuat eksistensi batik sebagai bagian dari identitas bangsa semakin kuat di tengah masyarakat.
Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi telah memungkinkan terjadinya sebuah inovasi—termasuk di Indonesia. Selain itu, hadirnya inovasi tersebut juga mencerminkan kualitas sumber daya manusia bangsa Indonesia yang unggul dan berdaya saing. Mereka telah berpikir secara kreatif tentang cara menghasilkan sesuatu secara inovatif dan tetap mengangkat serta menonjolkan warisan budaya bangsa.
Batik-batik di Indonesia pada umumnya merupakan buah karya para pembatik yang memiliki keterampilan membatik secara turun-temurun. Para pembatik mengikuti kaidah yang diajarkan orang tua atau pendahulunya, mulai dari kegiatan mendesain, menulis (untuk batik tulis) atau mencetak (untuk batik cap), hingga proses akhir sampai dihasilkannya kain batik yang indah. Kegiatan tersebut begitu sederhana dan tidak menggunakan rumus, teori, atau teknologi yang canggih.
Secara tidak sadar, nenek moyang bangsa Indonesia ternyata telah berpikir secara sistematis. Hal ini terlihat dari motif batik yang dihasilkannya, yang ternyata dapat dihitung dimensi fraktalnya. Menurut Muhamad Lukman, dari hasil penelitian yang dilakukan oleh Pixel People Project Reseacrh and Design pada tahun 2007, motif-motif batik Indonesia merupakan perwujudan dari sistem fraktal, yaitu suatu sistem di alam semesta ini yang memiliki prinsip utamaiterasi (pengulangan). Dari kenyataan itu, motif batik Indonesia dapat diteliti dari sudut sains (matematika) (Lukman, 2007: 2—3).
B.     Rumusan Masalah
Permasalahan yang dibahas dalam makalah ini :
1.      Bagaimana konsep yang diterapkan dari fraktal batik?.
2.      Bagaimana persaingan antara batik fraktal dan batik tradisional?
C.    Tujuan
Tujuan pembuatan makalah ini adalah :
1.      Mengenal fraktal batik sebagai inovasi budaya Indonesia
2.      Mengembang-luaskan konsep bisnis berbasis budaya, pengetahuan dan teknologi
.


BAB II
PEMBAHASAN

A.    Konsep Batik, Inovasi, dan hubungannya dengan Kebudayaan
Dalam Pengantar Ilmu Antropologi (1990), kebudayaan adalah keseluruhan sistem gagasan, tindakan, dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupannya yang dijadikan milik diri dengan cara belajar. Kebudayaan mempunyai tiga wujud dasar, yaitu sebagai ide atau gagasan, sebagai perilaku manusia yang berpola, dan sebagai benda-benda hasil karya manusia. Selain itu, kebudayan memiliki tujuh unsur utama. Ketujuh unsur itu; sistem pengetahuan, sistem peralatan hidup dan teknologi, organisasi sosial, sistem bahasa, sistem religi, sistem mata pencaharian hidup, dan kesenian.
Bagi sebagian besar masyarakat Indonesia, batik dianggap sebagai hasil kerajinan asli yang diwariskan secara turun-temurun. Batik berkaitan erat dengan aspek kehidupan sebagian besar orang Jawa. Motif yang terdapat dalam batik seringkali dikaitkan dengan berbagai simbol yang bermakna khusus dalam budaya mereka. Pada dasarnya, seni batik termasuk seni lukis dengan menggunakan alat yang dinamakan canting. Batik adalah lukisan atau gambar pada kain mori yang dibuat dengan menggunakan alat bernama canting. Hasil dari proses membatik adalah terciptanya sebuah produk yang disebut batik atau batikan yang berupa macam-macam motif (Hamzuri, 1989: vi).
Batik memiliki ragam hias yang bervariasi. Beberapa ragam hias tersebut; ragam hias Merak Ngibing (Indramayu dan Garut), Fajar Menyingsing (Madura), Merak Merem (Jambi), Semen Gurdo (Cirebon), Tambal (Pekalongan, Yogyakarta, Solo, dan Cirebon), Parang Rusak Barong (Yogyakarta), Kawung Prabu (Yogyakarta), Limar (Solo), dan lain sebagainya. Ragam hias batik yang bervariasi tersebut umumnya dipengaruhi oleh: (1) letak geografis daerah pembuat batik yang bersangkutan; (2) sifat dan tata penghidupan daerah yang bersangkutan; (3) kepercayaan dan adat istiadat yang ada di daerah yang bersangkutan; (4) keadaan alam sekitarnya, termasuk flora dan fauna; dan (5) adanya kontak atau hubungan antardaerah (Djoemena, 1990: 1—11).
Meskipun hingga sekarang belum dapat dipastikan asal-usulnya, kata batik dianggap berasal dari bahasa Jawa, yaitu ambatik (menggambar atau menulis). Ada dua pendapat tentang asal-usul batik. Pendapat pertama, adanya kecenderungan untuk mengatakan bahwa di Mesir pada abad VI telah terdapat kain batik dan pada akhirnya menyebar ke Jazirah Afrika. Ada bukti bahwa orang Mesir dan Persia memakai pakaian batik dalam relief-relief yang terdapat pada piramida. Pendapat kedua, berdasar pada bukti arkeologis yang menyatakan bahwa orang India, Cina, Jepang, dan negeri lain di Asia Timur juga telah mengenal batik. Namun demikian, ada fakta yang jelas bahwa batik telah ada di Jawa pada abad XII sebagai bagian penting dari kebudayaan dan ekonomi Kerajaan Majapahit (Purwanto, 2003: 14).
Dalam perkembangan awal di Indonesia, batik beredar di lingkungan keraton sebagai perhiasan dari istri raja. Dari keraton, batik lalu dikenal sebagai barang istimewa yang menunjukkan status tinggi pemakainya. Dalam sejarah nasionalisme Indonesia, batik menjadi pakaian nasional yang digunakan oleh perempuan dan lelaki untuk membedakan dengan bangsa Barat (kaum kelas satu) yang umumnya berpakaian kemeja dan jas serta bangsa Timur lain (kaum kelas dua) yang umumnya menggunakan pakaian khas mereka (Purwanto, 2003: 14).
Sebagai warisan budaya, batik lahir dari keluhuran spiritual yang mengandung nilai-nilai filosofis tersendiri, khususnya bagi masyarakat Jawa. Orang Jawa percaya bahwa untuk mencapai kebaikan dibutuhkan keseimbangan dan keselarasan antara manusia, lingkungan, dan alam. Keyakinan tersebut perlu diwujudkan dalam budaya material yang dihasilkan dan dikembangkan dalam lingkungan keraton, termasuk dalam proses pembuatan batik. Sofistikasi teknik, makna simbolik, dan aspek spiritual batik juga menyebar ke luar keraton.
Ragam hias batikberkaitan dengan kedudukan sosial seseorang, misalnya; batik dengan ragam hias parang rusak barong dan kawung. Batik yang menggunakan ragam hias tersebut hanya boleh digunakan oleh para raja beserta keluarga dekat. Hal itu berkaitan dengan arti atau makna filosofis dalam kebudayaan Hindu-Jawa. Kedua ragam hias tersebut sering disebut sebagai ragam hias larangan (tidak semua orang boleh menggunakannya) (Djoemena, 1990: 12). Akan tetapi, seiring perkembangan zaman, kedua ragam hias batik tersebut telah menjadi milik masyarakat bersama. Dengan kata lain, masyarakat bebas untuk menggunakannya.
Hakikat kebudayaan adalah perwujudan kehidupan masyarakat itu sendiri dan proses perkembangannya. Kebudayaan merupakan manifestasi kepribadian suatu masyarakat yang memberikan pengertian bahwa identitas masyarakat tercermin dalam orientasi yang menunjukkan pandangan hidup serta sistem nilainya dalam persepsi untuk melihat dan menanggapi dunia luar, dalam pola serta sikap hidup yang diwujudkan, dalam tingkah laku sehari-hari, serta dalam gaya hidup yang mewarnai kehidupannya (Poespowardojo, 1986: 29).
Kebudayaan dapat dikatakan maju dan berkembang jika di dalam kebudayaan itu terdapat anasir kebudayaan baru yang dapat terjadi karena adanya penemuan baru (invention) atau modifikasi dari penemuan baru (innovation) dengan adanya pencampuran kebudayaan (culture acculturation). Istilah penemuan mengandung dua pengertian, yang pertama invention mengacu pada penemuan yang benar-benar baru dengan segala pertimbangan yang disesuaikan dengan kebutuhan lingkungan. Keduanya akan menciptakan tingkah laku baru sebagai akibat munculnya pengalaman baru dari masyarakat pendukung (Sjafei, 1986: 97).
Menurut Koentjaraningrat, inovasi merupakan suatu proses perubahan kebudayaan yang terjadi dalam jangka waktu yang tidak terlampau lama. Proses tersebut meliputi suatu penemuan baru, jalannya penemuan baru tersebut di tengah-tengah masyarakat, dan cara penerimaannya dalam masyarakat. Selain itu, inovasi adalah suatu proses pembaharuan dari penggunaan sumber-sumber alam, energi, modal, pengaturan tenaga kerja, dan penggunaan teknologi yang menyebabkan adanya sistem produksi dan produk-produk baru. Dengan demikian, inovasi berkaitan dengan pembaharuan kebudayaan yang menyangkut pada aspek teknologi dan ekonomi (Koentjaraningrat, 1990: 135).
Di dalam ilmu Antropologi,penemuan—berkaitan erat dengan inovasi—sendiri dibedakan menjadi dua macam kata; discovery dan invention. Discovery adalah penemuan suatu unsur kebudayaan baru, baik yang berupa suatu bentuk konkret (produk), maupun yang berupa suatu bentuk abstrak (ide), yang diciptakan oleh seorang individu atau suatu kelompok dalam masyarakat. Suatu discovery dapat menjadi sebuah invention jika telah terjadi pengakuan, penerimaan, dan penerapan terhadap penemuan baru tersebut dalam masyarakat. Pada saat suatu penemuan baru tersebut sudah menjadi invention, proses inovasi belumlah selesai. Penyebaran penemuan baru tersebut di tengah-tengah masyarakat masih harus terus digalakkan (Koentjaraningrat, 1990: 135).
Menurut Koentjaraningrat, faktor pendorong terjadinya penemuan baru meliputi: 1) kesadaran dari individu-individu akan kekurangan dalam kebudayaannya; 2) kualitas dari ahli-ahli dalam suatu kebudayaan; dan c) sistem perangsang bagi aktivitas-aktivitas penciptaan dalam masyarakat. Menemukan suatu hal yang baru pasti membutuhkan daya yang besar, tetapi menyebarkan sesuatu hal yang baru pasti membutuhkan daya yang lebih besar lagi (Koentjaraningrat, 1990: 135—136).
B.     Batik Fraktal
Batik fraktal merupakan penemuan Pixel People Project Research and Design (PPPRD), sebuah kelompok riset dan desain di Bandung. Kelompok ini didirikan Nancy Margried, Muhamad Lukman, dan Yun Hariadi pada tanggal 14 Februari 2007. Setelah dilakukan penelitian yang mendalam oleh PPPRD, batik ternyata memiliki dimensi fraktal. Istilah fraktal sebelumnya hanya dikenal dalam bidang matematika dan fisika.
PPPRD memfokuskan perhatiannya pada riset dan desain. Hasil yang sudah dicapai adalah batik fraktal dan furniture dengan motif fraktal. Dalam tulisan ini, penulis hanya memfokuskan perhatiannya terhadap batik fraktal. Di bawah ini terdapat kutipan yang penulis unduh dari laman www.pxlpplproject.com.
Kreativitas gemilang dari PPPRD mendapat penghargaan dari United Nations Education, Scientific, and Cultural Organization (UNESCO) di bidang kebudayaan pada awal Oktober 2008. Penilaian UNESCO tersebut terfokus pada argumen bahwa batik fraktal dan furniture dengan motif batik fraktal memiliki kualitas tinggi dan berpotensi besar di pasar internasional.
Batik fraktal merupakan batik yang didesain dengan menggunakan prinsip (rumus) fraktal. Dengan kata lain, batik fraktal adalah motif batik tradisional yang ditulis ulang secara matematis. Penulisan ulang yang telah dimodifikasi lebih kompleks (diubah formulanya) dapat menghasilkan motif yang baru atau berbeda. Pada dasarnya, itu semua terkait dengan bahasa pemprograman.
Kata fraktal—berasal dari kata fractus—memiliki arti pecahan yang menunjukkan bahwa sifat angka yang ditunjukkan selalu bersifat pecahan (bukan bilangan bulat). Fraktal merupakan fenomena matematika dalam alam, kebudayaan, dan anatomi manusia yang juga berkembang menjadi ilmu matematika—yang juga dimanfaatkan dalam ilmu lain. Fraktal berpusat pada pengulangan (iteration) dan kesamaan diri (self similarity) (Lukman, 2007: 1—2).

Sebelum menerapkan motif batik fraktal, dalam pembuatan batik fraktal dan furniture fraktal, PPPRD melakukan penelitian terhadap batik dengan pendekatan fraktal. Penelitian tersebut menemukan kesimpulan akhir bahwa batik itu sendiri membawa karakteristik fraktal sebenarnya. Kompleksitasfraktal muncul karena kepatuhan pada pakem (arti simbolis, harmoni dan simetri) dan pembatasan media (canting dan lilin). Karena dapat dibahasakan secara matematis, lebih jauh, Pixel People Project mengembangkan perangkat lunak batik fraktal. Program berbasis Java ini memudahkan seseorang untuk mengembangkan motif batik dalam formula fraktal (bersifat fleksibel). Hasil desainnya lalu disimpan dalam format png (Lukman, Muhamad, dkk., 2007: 2—5).
Sebelum membuat batik fraktal, hal pertama yang harus dilakukan adalah mengukur DNA batik tersebut. Kita harus mengukur keteraturan motif dan ciri khas batik dengan menggunakan alat yang disebut dimensi fractal. Hasil pengukuran tersebut selanjutnya disebut DNA batik.
Sebagai contoh, motif parang rusak dari Yogyakarta ditransformasikan dalam rumus matematika fraktal dengan bahasa L-System. Rumus tersebut kemudian dimodifikasi dengan mengubah parameter-parameternya sehingga menghasilkan rumus yang lebih kompleks dan rumit. Selanjutnya, rumus tersebut diolah dengan program JBatik, sebuah aplikasi yang dibangun dengan basis open source software.
C.    Perangkat Lunak Jbatik
Rumus fraktal tersebut akan menghasilkan gambar motif batik yang berbeda dari motif asli. Pendesain dapat terus mengubah parameter rumusnya sehingga gambar yang dihasilkan sesuai dengan apa yang dikehendaki. Setelah pendesain mendapatkan motif yang diharapkan, motif tersebut dicetak. Hasil cetakan dari komputer tersebut kemudian diberikan kepada pembatik tradisional untuk dicanting atau dicap di atas kain.
Pengerjaan Batik Fraktal oleh Pembatik Tradisional
Proses akhirnya masih mempertahankan proses tradisional, yaitu dengan cap atau canting. Para pembatik tradisional itu tentu tetap menggunakan malam (semacam tinta untuk menulis batik). Setelah proses tersebut, pewarnaan dapat dilakukan dengan cara pencelupan. Pembuatan batik dengan menggunakan rumus fraktal ini dapat memberi varian-varian desain baru yang tidak terbayangkan sebelumnya oleh kita.
D.    Motif Batik Fraktal dalam Pendekatan Inovasi
Analisis data—dari PPPRD—dilakukan dengan membandingkan motif batik klasik dan motif batik fraktal berdasarkan komponen pembanding. Adapun komponen pembanding yang digunakan adalah warna dan motif. Dengan melakukan perbandingan tersebut, kita dapat mengetahui persamaan dan perbedaan di antara keduanya.
Beberapa istilah akan penulis gunakan; ragam hias utama (klowongan), isen, dan ragam hias pengisi. Hal itu merupakan tiga unsur pokok motif batik. Isen merupakan hiasan yang mengisi bagian-bagian ragam hias utama (klowongan). Sementara itu, ragam hias pengisi adalah hiasan yang ditempatkan pada latar pola sebagai penyeimbang bidang agar pola secara keseluruhan tampak rapi dan serasi (Doellah, 2002: 255—260).


UNTUK MENDAPATKAN LANJUTAN DARI MAKALAH INI (BESERTA GAMBAR DAN DAFTAR PUSTAKA) ANDA DAPAT MENDOWNLOADNYA DI SINI

No comments: