radio muadz 94,3 fm kendari

radio muadz 94,3 fm kendari
radio muadz 94,3 fm kendari

September 08, 2011

Aku & Pak SBY


Aku adalah segelintir hamba Allah yang ditaqdirkan hidup di bumi Indonesia. Sedangkan SBY adalah presiden dan pemimpinku. Dan yg aku ketahui beliau adl seorang muslim, dan aku belum pernah melihat beliau melakukan tindakan kekufuran yg nyata. Kewajibanku, sebagai anak bangsa adl selalu mentaati perintahnya selama perintah itu tidak melanggar syari'at Tuhanku. Allah Yang Maha Mulia Berfirman:
"wahai orang-orang yg beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul-Nya dan taatilah ulil amri diantara kalian". (QS. An-Nisa': 59).
Ayat ini adl sangat jelas bahwasanya Allah memerintahkan kepada orang-orang yang beriman untuk mentaati Allah dan Rasul-Nya serta mentaati Ulil Amri.
Diterangkan oleh Ibnu Katsir di dalam kitab tafsirnya, bahwa makna ulil amri adalah 'Ulama dan 'Umara (pemerintah). Ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya adalah ketaatan mutlaq. sedangkan ketaatan kepada pemerintah adalah ketaatan yg tidak mutlaq. Artinya, selama perintahnya itu tidak bertentangan dng perintah Allah dan Rasul-Nya, maka kita wajib mentaatinya.


Nabi kita juga telah bersabda dalam hadits dari Irbath bin Sariyah radhiyallahu 'anhu: "Dengar dan taatilah! walaupun yang memerintah kalian adalah seorang budak". (HR. Abu Daud dan At-Tirmidzi).
Sebagai seorang muslim, mestinya berbaik sangka kepada Allah dan Rasul-Nya. Tidak mungkin Allah dan Rasul-Nya memerintahkan hamba-Nya agar hamba-Nya itu celaka. Itu sangat tidak mungkin. Karena hal itu bertentangan dengan sifat Rahmat Allah dan juga bertentangan dng sifat Rasul-Nya yang sangat menginginkan kebaikan kepada umatnya.

Tapi para pembaca yang budiman, aku sangat sedih. Era reformasi tlah merubah wajah umat Islam di negeriku ini. sehingga era reformasi diartikulasikan sebagai kebebasan dalam berfikir, kebebasan dalam berpendapat tanpa ada batasnya. Yang mestinya itu tidak boleh terjadi pada insan yang beradab.
Mimbar-mimbar Jum'at yang semestinya dijadikan sarana untuk menasehati umat, menyeru kaum muslimin agar selalu beriman dan bertaqwa kepada Allah, telah berubah menjadi ajang untuk menguliti dan menelanjangi aib-aib penguasa. Juga sumpah serapah, caci makian dan kata-kata kotor lainnya tanpa ada rasa adab santun sedikitpun. Wallahi! Perbuatan semacam ini, tidak ada manfaatnya sedikitpun, baik bagi para penguasa ataupun rakyatnya. Justru yang akan terjadi adalah semakin dendamlah penguasa kepada rakyatnya. Dan rakyat akan semakin benci dan murka kepada pemerintahnya. Ya Allah, ampunilah kami.

Saudara-saudaraku seaqidah yang saya hormati. Kita tidak memungkiri banyak terjadi kesalahan dan kekurangan pada para penguasa. Akan tetapi, bukan berarti kita boleh untuk keluar dari ketaatan dalam perkara yang ma'ruf (baik).
Nabi kita Muhammad Shallallahu 'alaihi wasallam tlah bersabda: "dengar dan taatlah sekalipun hartamu diambil dan punggungmu dipukul". (HR. Muslim).
Hadits ini memberikan pengertian kalaupun sampai terjadi penguasa itu merampas harta kita dan memukul punggung kita, maka kita tetap wajib mentaati dalam perkara yang ma'ruf. sedangkan hak-hak kita yang dirampas oleh penguasa maka kita minta kepada Allah balasannya. Jadi, penguasa itu wajib ditaati dalam bingkai ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya.
Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
"Barangsiapa taat kepada penguasa, maka dia tlah taat kepadaku, dan barangsiapa yang durhaka kepada penguasa berarti dia tlah durhaka kepadaku". (HR. Bukhari dan Muslim).
Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam juga bersabda:
"barangsiapa taat kepadaku, berarti dia telah mentaati Allah, dan barangsiapa yang durhaka kepadaku berarti dia telah durhaka kepada Allah, dan barangsiapa yang taat kepada pemimpin berarti dia tlah taat kepadaku, dan barangsiapa yang durhaka kepada pemimpin berarti dia tlah durhaka kepadaku". (HR. Bukhari-Muslim).

Dengan demikian, menjadi jelaslah, bahwa kesalahan penguasa itu bukan berarti membolehkan kita kudeta dan keluar dari ketaatan. Dari Auf bin Malik radhiyallahu 'anhu, dia berkata bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "ketahuilah! bahwa barangsiapa yang dipimpin oleh seorang penguasa lalu dia melihat penguasa tersebut melakukan perbuatan maksiat, maka hendaklah dia membenci perbuatan maksiat tersebut dan tidak melepaskan ketaatan kepadanya". (HR. Muslim).

Para Pembaca yang budiman, mungkin masih ada yang belum puas dengan hadits-hadits di atas sebagai hujjah untuk taat kepada penguasa walaupun ada kezhaliman pada penguasa tersebut.
Baiklah, sekarang bandingkan!! Lebih zhalim mana antara penguasa kita SBY dng Hajjaj bin Yusuf. Barangkali, semua tlah tahu bagaimana kejam dan kezhalimannya. sekian banyak kaum muslimin bahkan para 'ulama yang mati ditangan Hajjaj ini. Sampai-sampai seorang tabi'in yang bernama Zubair bin 'Adi beliau mendatangi Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu -sisa shahabat yang masih hidup pada masa itu-. Zubair bin 'Adi mengeluhkan kejamnya penguasa Hajjaj bin Yusuf. Maka Anas berkata kepadanya: "Ishbiruu (Bersabarlah kalian). karena sesungguhnya tidaklah datang kepada kalian suatu zaman melainkan setelahnya lebih buruk dari sebelumnya hingga kalian menemui Rabbmu (meninggal dunia). Aku tlah mendengarnya dari Nabi kalian shallallahu 'alaihi wasallam". (HR. Bukhari).
Lihatlah perkataan shahabat yang mulia ini. dengan kedalaman dan keluasan ilmunya, Anas radhayallahu 'anhu tidak gegabah dalam menentukan suatu keputusan hukum. karena beliau memiliki pandangan jauh ke depan. Serta pengetahuan beliau terhadap realita yang dialami  umat manusia. Kalau seandainya Anas radhiyallahu 'anhu memerintahkan kepada Zubair bin 'Adi untuk memberontak, mungkin akan terjadi kerusakan yang lebih besar dan korbannya akan semakin banyak berjatuhan.

Sekarang bandingkan dengan presiden kita SBY. pernahkah harta kita diambil olehnya??? pernahkah punggung kita dipukul olehnya??? pernahkah beliau membantai kaum muslimin??? pernahkah beliau membunuh para 'Ulama??? kalau seandainya kita jawab belum pernah. maka alasan apa yang menghalangi kita untuk taat kepadanya???

Pembaca yang budiman, demikianlah. Semoga risalah ini bermanfaat!!

Oleh: Ustadz Abu Adib
Rujukan: Riyadhus Sholihin

(Sumber: Buletin IstiQomah Edisi 020)

No comments: