radio muadz 94,3 fm kendari

radio muadz 94,3 fm kendari
radio muadz 94,3 fm kendari

April 29, 2011

Wajah diskriminasi di Amerika

Wajah diskriminasi di Amerika

NEW JERSEY (Arrahmah.com) -  Ketika Amerika disibukkan dengan agenda menyebar sistem demokrasi di berbagai negara Timur Tengah, dan mengklaim Demokrasi sebagai sistem yang menjunjung tinggi hak-hak asasi manusia, di dalam negeri Amerika sendiri toleransi menjadi sesuatu yang masih harus dipelajari, dimengerti, dan dipahamkan kepada para siswa di sekolah.
Berita mengenai seorang anak laki-laki 8 tahun ditemukan bergantungan di sebuah pengait kamar mandi di sekolahnya di Louisville, Kentucky, telah mengejutkan keseluruhan komunitas dan para pejabat sekolah. Anak laki-laki imigran Somalia tersebut ditemukan tidak sadar dan dibawa ke rumah sakit dengan luka-luka yang serius, namun membutuhkan waktu tiga minggu untuk ceritanya mencapai halaman utama media nasional. Kebenaran yang menyedihkan adalah anak laki-laki tersebut telah mengalami penggencetan kronis, yang tidak ditegur oleh pihak sekolah.
Di New Jersey, beberapa kasus di mana anak-anak Arab dan Muslim telah menjadi korban tetap pelecehan oleh teman-teman sesama siswa. Tuduhan menjadi seorang teroris, seorang asing dan tidak Amerika berada pada daftar teratas penghinaan yang dilemparkan pada anak-anak yang tidak berdaya.
Komunitas etnis terakhir yang menderita dari fenomena ini adalah komunitas Arab dan Muslim. Komite Anti-Diskriminasi Arab Amerika Cabang New Jersey akan menjadi tuan rumah sebuah presentasi penting pada 28 April 2011, untuk menujukan peningkatan penggencetan terhadap Muslim Amerika muda, yang telah meningkat dalam frekuensi. Banyak pemuda di sekolah menghadapi pelecehan emosional dan fisik yang dipanggil dengan “teroris” atau dicacimaki untuk “pulang” setiap harinya. Ketika kata-kata kebencian tersebut tidak ditanggapi dengan serius, hal tersebut memiliki potensi balasan menjadi kekerasan.’
Penggencetan Muslim Amerika tidak dibatasi di ruang-ruang kelas dan taman bermain saja. Sentimen anti-Muslim telah mengangkat kepala buruknya lagi dan lagi. Memikirkan tentang pembakaran Al-Quran baru-baru ini oleh Pastur Terry Jones, seluruh negeri menusuk di dalam sentimen anti-Masjid, gelombang baru RUU anti-Syariah di lebih dari belasan negara bagian di seluruh negeri, seorang anggota dewan Villa Park menyerukan untuk kekerasan terhadap Muslim Amerika dan sebuah kasus baru-baru ini di mana seorang wanita Muslim ditolak layanan ketika berada di sebuah toko matras karena manajer toko mengangapnya sebuah ancaman keamanan nasional.
Anggota Kongres New York Peter King memimpin di antara para politisi yang telah membuat sebuah masalah fitnahan Muslim, mempertanyakan kesetiaan mereka dan meragukan patritosme mereka. Dampak tambahan dari semua langkah sengaja tersebut menghukum keseluruhan komunitas pada akhirnya menyerap ke dalam wacana arus utama, lingkungan sekolah menjadi sebuah tanah matang bagi tindakan tak manusiawi tersebut. Membuatnya tidak terdengar, penggencetan para anak-anak muda kemungkinan menuntun pada beberapa tindakan kekerasan melebihi halaman sekolah.
Pada bulan Maret, Presiden Barack Obama mengadakan sebuah konferensi tentang penggencetan untuk menantang kepercayaan bahwa penggencetan adalah sebuah hak normal bagian dari kehidupan pemuda. Ia menekankan bahwa pemerintahan federal, pendidik administrator sekolah dan komunitas semua harus bekerjasama untuk mengakhiri penggencetan. www.stopbullying.gov juga diluncurkan dengan tujuan untuk memberikan sumber-sumber bagi para pendidik dan komunitas tentang bagaimana mengalamatkan penggencetan dan menjaga agar sekolah tetap aman.
Dinas Hak Asasi Manusia Departemen Pendidikan memiliki sebuah bagian untuk para orang tua tentang bagaimana untuk mengajukan sebuah keluhan jika anak-anak mereka dilecehkan berdasarkan ras, warna, asal kebangsaan, jenis kelamin, ketidakmampuan dan usia yang melanggar undang-undang federal. Merupakan hal yang penting untuk mendokumenkan dan melaporkan insiden penggencetan dalam enam bulan. Penggencetan terjadi ketika para teman, petugas sekolah dan orang tua mengabaikan tanda-tandanya. Para orang tua harus memastikan bahwa epidemik tersebut dicabut dari bayang-bayang gelap lorong-lorong sekolah dan disoroti sehingga kemungkinan dapat dialamatkan.
Beginikah wajah toleransi yang akan disebarkan oleh pengusung demokrasi yang menjunjung hak-hak asasi manusia? Menoleransi banyak hal kecuali yang berkenanaan dengan kaum muslimin? Sungguh standart ganda yang menyesatkan. (m1/arrahmah.com)

No comments: