radio muadz 94,3 fm kendari

radio muadz 94,3 fm kendari
radio muadz 94,3 fm kendari

February 02, 2011

vitamin dan mineral

BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Pengetahuan tentang vitamin sangat diperlukan dalam kehidupan manusia terutama  bagi  kesehatan.  Misalnya,  vitamin C  sangat  berguna/berperan dalam menjaga  dan memperkuat   imunitas   terhadap  infeksi,  vitamin C  juga  berperan penting   terhadap   fungsi   otak,   karena   otak   banyak  mengandung   vitamin   C. Kekurangan   vitamin  C  dapat  menimbulkan   berbagai   penyakit   pada  manusia, seperti  pendarahan di  hidung,  masuk angin,  encok,   rhematic,  peradangan pada persendian,  luka bernanah pada organ lambung,  dll.  Oleh karena itu,  vitamin C sangat   penting   bagi   kehidupan   manusia.  
Sebagaimana kita menjadi tua, tulang kita menghilangkan kandungan zat mineralnya. Kita mungkin kehilangan zat mineral tulang lebih cepat jika kita berusia lebih dari 50 tahun, jika kita perempuan setelah mati haid (menopause), atau jika kita langsing atau berberat badan ringan. Osteoporosis juga dikaitkan dengan kekurangan kalsium atau vitamin D dalam diet, dengan merokok, dengan memakai terlalu banyak kafein atau alkohol, dan kekurangan olahraga. Kita belum mengerti mengapa orang dengan HIV mempunyai angka osteoporosis lebih tinggi. Namun sebuah penelitian baru menemukan hubungan antara kehilangan tulang dan lamanya terinfeksi HIV.
Pada percobaan ini, dilakukan penentuan kadar vitamin C dan analisa kualitatif abu tulang.


B.     Permasalahan
Permasalahan dalam praktikum ini yaitu:
1.      Bagaimana cara menentukan kadar vitamin C?
2.      Uji-uji apa saja yang digunakan untuk mengidentifikasi adanya mineral?
C.     Tujuan
Tujuan praktikum ini yaitu:
1.      Untuk menentukan kadar vitamin C dan
2.      Menganalisa kualitatif abu tulang.
D.    Manfaat
Manfaat yang diperoleh dari praktikum  ini, antara lain :
1.      menambah pengetahuan mengenai cara menentukan kadar vitamin C yang terkandung dalam sampel.
2.      Dapat mengetahui uji-uji yang digunakan untuk mengidentifikasi adanya mineral dalam sampel.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Asam askorbat (Vitamin C) adalah suatu heksosa dan diklasifikasikan sebagai karbohidrat yang erat kaitannya dengan monosakarida.Vitamin C mudah diabsorbsi secara aktif dan mungkin pula secara difusi pada bagian atas usus halus lalu masuk keperedaran darah melalui vena porta.Rata-rata absorpsi adalah 90% untuk konsumsi diantara 20 dan 120 mg sehari.Tubuh dapat menyimpan hingga 1500 mg vitamin C, bila konsumsi mencapai 100 mg sehari.(Sunita Almatsier,2001). Vitamin C juga memiliki peran dalam berbagai fungsi yang melibatkan respirasi sel dan kerja enzim yang mekanismenya belum sepenuhnya dimengerti,peran-peran itu adalah oksidasi fenilanin menjadi tirosin,reduksi ion feri menjadi fero dalam saluran pencernan sehingga besi lebih mudah terserap, melepaskan besi dari transferin dalam plasma agar dapat bergabung ke dalam feritin jaringan, serta pengubah asam folat menjadi bentuk yang aktif asam folinat.diperkirakan vitamin C juga berperan dalam pembentukan hormon steroid dan kolesterol. (F.G.Winarno,2004).
Peranan utama vitamin C adalah dalam pembentukan kolagen interseluler.Kolagen merupakan senyawa protein yang banyak terdapat dalam tulang rawan,kulit bagian dalam tulang,dentin, dan vasculair endothelium. Asam askorbat sangat penting peranannya dalam proses hidroksilasi dua asam amino prolin dan lisin menjadi hidroksi prolin dan hidroksilisin.
Vitamin-C is a six carbon chain, closely related chemically to glucose. It was first isolated in 1928 by the Hungarian-born scientist Szent-Gyorgi and structurally characterized by Haworth in 1933. In 1934,
Vitamin C merupakan senyawa yang  sangat   larut  dalam air,  mempunyai sifat   asam  dan   sifat   pereduksi   yang   sangat   kuat.  Sifat-sifat   tersebut   terutama disebabkan  adanya   struktur   enadiol  yang berkonjugasi  dengan gugus  karbonil dalam cincin laktan (Radinal dkk., 2008). Bentuk vitamin C yang ada di alam adalah Asam Askorbat. Asam  askorbat  memiliki 6 ikatan karbon, mempunyai   struktur   yang  mirip dengan  monosakarida. Orang yang pertama kali mengisolasinya adalah Szent-Gyorgi seorang ilmuwan berkebangsaan Hungaria (Annymous). Kemudian struktur vitamin C ditentukan oleh Haworth pada tahun 1933. Struktur vitamin C dapat dilihat sbb:
Analisa dengan cara titrasi redoks telah banyak dimanfaatkan, seperti dalam analisis vitamin C (asam askorbat). Dalam analisis ini teknik iodimetri dipergunakan. Pertama-tama, sampel ditimbang seberat 400 mg kemudian dilarutkan kedalam air yang sudah terbebas dari gas carbondioksida (CO2), selanjutnya larutan ini diasamkan dengan penambahan asam sulfat encer sebanyak 10 mL. Titrasi dengan iodine, untuk mengetahui titik akhir titrasi gunakan larutan kanji atau amilosa (Zulfikar, 2008).
Dalam bahan makanan terdapat sejumlah elemen mineral, baik yang dibutuhkan dalam jumlah besar (makro-elemen) maupun yang dibutuhkan dalam jumlah kecil (mikro-elemen). Abu merupakan komponen dalam bahan makanan yang penting untuk menentukan kadar mineral (Handayani dkk., 2004).
Seperti unsur nutrisi pada manusia, mineral berperan penting dalam proses fisiologis ternak, baik untuk pertumbuhan maupun pemeliharaan kesehatan. Beberapa unsur mineral berperan penting dalam penyusunan struktur tubuh, baik untuk perkembangan jaringan keras seperti tulang dan gigi maupun jaringan lunak seperti hati, ginjal, dan otak. Unsur mineral makro seperi Ca, P, Mg, Na, dan K berperan penting dalam aktivitas fisiologis dan metabolisme tubuh, sedangkan unsur mineral mikro seperti besi (Fe), tembaga (Cu), seng (Zn), mangan (Mn), dan kobalt (Co) diperlukan dalam sistem enzim (Anonim, 2007).
  Kandungan  garam-garam  mineral  pada  berbagai tipe sel sangat bervariasi. Di dalam sel, garam-garam mineral  dapat mengalami  disosiasi menjadi  anion dan  kation.  Bentuk-bentuk  anion  dan  kation  tersebut dinamakan  ion.  Ion-ion  dapat  terlarut di dalam  cairan  sel atau  terikat  secara  khusus  pada  molekul-molekul  lain seperti  protein  dan  lipida.
Berbagai  jenis  garam-garam  mineral  sangat penting  untuk  kelangsungan  aktivitas  metabolisme  sel, misal-nya  ion  Na+  dan  K+,  berperan  dalam  memelihara tekanan  osmosis  dan  keseimbangan  asam  basa  cairan sel.  Retensi  ion-ion  menghasilkan  peningkatan  tekanan osmosis sebagai akibat masuknya air ke dalam sel.   Beberapa  ion-ion  anorganik  berperan  sebagai kofaktor  dalam  aktivitas  enzim,  misalnya  ion magnesium.  Fosfat  anorganik  digunakan  dalam  sintesis ATP  yang  mengsuplai  energi  kimia  untuk  proses kehidupan dari sel melalui proses fosforilasi oksidatif. Ion-ion  kalsium  dijumpai  dalam  sirkulasi  darah  dan  di  dalam sel. Di dalam tulang, ion-ion kalsium berkombinasi dengan ion-ion  fosfat  dan  karbonat  membentuk  kristalin.  Fosfat dijumpai  di  dalam  darah  dan  di  dalam  cairan  jaringan sebagai ion-ion bebas, tetapi fosfat di dalam tubuh banyak terikat  dalam  bentuk  fosfolipida,  nukleotida,  fosfoprotein, dan gula-gula terfosforilasi (Adnan, 2006).

BAB III
METODE PRAKTIKUM
A.    Waktu dan Tempat
Praktikum yang berjudul Vitamin dan Mineral telah dilakukan di Laboratorium Kimia FMIPA Universitas Haluoleo pada hari Senin tanggal 25 Oktober 2010.
B.     Alat dan Bahan
Alat yang digunakan pada praktikum ini diantaranya erlenmeyer 250 ml, gelas kimia 250 ml, tanur, statif dan klem, buret, gegep, gelas ukur 50 ml, pipet ukur 10 ml, pipet tetes, botol semprot, corong, hot plate, batang pengaduk, mortal dan pastel, cawan porselin, dan oven.
Bahan yang digunakan dalam percobaan ini adalah Vitamin C, larutan H2SO4 2 N, Iod 0,01 M dan 0,1 M, Larutan tiosulfat, Aquadest, HNO3 10% dan pekat, tulang ayam, ammonium oksalat 1 %, asam asetat encer, dan kertas saring.

C.     Rancangan Percobaan
Rounded Rectangle: Tablet Vitamin C- Penentuan kadar Vitamin C
Persen kadar vitamin C = 2,93 %
 
 


















-          Pembuatan larutan blanko

Volume blanko 2 ml
 
 
















-          Analisa kualitatif abu tulang

 
































-          Rounded Rectangle: EndapanUji Endapan

 







-          Uji Kalsium

 





















BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
Vitamin adalah  sebutan untuk  sejumlah zat  organik yang berhubungan, terdapat dalam makanan dengan jumlah yang kecil, dan yang dalam jumlah sangat kecil   itu   diperlukan   untuk   fungsi  metabolik   normal   tubuh. Vitamin C atau asam asorbat merupakan zat gizi organik yang diperlukan dalam jumlah kecil pada makanan manusia dan hewan untuk pertumbuhan dan fungsinya yang baik sebagai prekusor esensial berbagai koenzim.
Dalam percobaan, tablet 0,3 gr vitamin C harus dihaluskan terlebih dahulu kemudian dilarutkan dalam aquades. Sebenarnya penghalusan tidak mutlak dilakukan mengingat vitamin C memiliki kelarutan yang sangat baik dalam air. Vitamin C juga mempunyai sifat   asam  dan   sifat   pereduksi   yang   sangat   kuat.  Ketiga sifat   tersebut   muncul akibat adanya   struktur   enadiol  yang berkonjugasi  dengan gugus  karbonil dalam cincin laktan. Seperti yang telah digambarkan dalam tinjauan pustaka, diketahui bentuk vitamin C adalah Asam Askorbat. Sifat pereduksi dari asam askorbat ini dapat dimanfaatkan dalam penentuan kadar vitamin C dalam sampel yaitu dengan titrasi redoks menggunakan titran larutan oksidator seperti tiosulfat.
Dalam penentuan dengan metode titrasi, larutan vitamin C yang telah dibuat kemudian diasamkan dengan penambahan 5 ml H2SO4, suasana asam mutlak diperlukan karena reaksi oksidasi larutan Iod-asam askorbat hanya dapat terjadi pada pH asam, khususnya pH 5 yang menjadi pH optimum pengoksidasian. Tahap selanjutnya adalah larutan dititrasi dengan Iod 0,1 N. Penambahan  iod menyebabkan larutan yang berwarna kuning berubah menjadi coklat kehitaman. Warna cokelat dimunculkan berdasarkan pereaksian antara iod dengan asam askorbat.
Larutan Iod-asam askorbat dapat dititrasi dengan penambahan sedikit demi sedikit larutan tiosulfat, pereaksian ini akan mengoksidasi iod-asam askorbat sehingga menyebabkan terlepasnya iod dari molekul asam askorbat. Lepasnya ikatan ini akan menyebabkan larutan menjadi bening, beningnya larutan menandakan terbentuknya ion SO42- dan I-, terbentuknya 2 ion ini menunjukkan tericapainya titik akhir titrasi. Proses titrasi yang sama juga dilakukan terhadap blanko aquades dengan perlakuan yang sama dengan sampel. Reaksi yang terjadi yaitu:
S2O32-(aq)­        +    I2(aq)                               SO42-(aq)            +          2 I-(aq)
Berdasarkan percobaan yang dilakukan, volume larutan tiosulfat yang digunakan untuk titrasi sampel vitamin C adalah 1 ml dan untuk blanko 2 ml. Untuk penentuan kadar vitamin C dari sampel, volume larutan tiosulfat diperoleh dari selisih volume tiosulfat untuk titrasi blanko dan sampel, yaitu 1 ml. Menurut teori, 1 ml tiosulfat setara dengan 8,80 mg vitamin C, sehingga dapat ditentukan kadar vitamin C dalam sampel yaitu:
                                                                                    

Analisa kualitatif abu tulang dilakukan dilakukan dengan mengolah abu tulang. Proses pengabuan dilakukan dalam tanur dengan suhu 7000C. Abu merupakan komponen dalam bahan makanan yang penting untuk menentukan kadar mineral
Mineral yang terdapat dalam suatu bahan dapat merupakan dua macam garam yaitu garam organic dan garam anorganik. Yang termasuk garam organic misalnya garam asam maltat, oksalat, asetat dan pektat.sedangkan garam anorganik antara lain dalam bentuk garam fosfat, karbonat, klorida, sulfat dan nitrit. Penentuan abu total dapat dikerjakan dengan pengabuan secara kering atau cara langsung dan dapat pula basa atau cara tidak langsung. Penetuan kadar abu dengan cara kering adalah dengan mengoksidasikan semua zat organic pada suhu yang tinggi yaitu pada suhu ± 5000C-6000C dan kemudian melakukan penimbangan zat yang tertinggal satelah proses pembakaran tersebut. Sedangkan pengabuan basah atau secara tidak langsung terutama digunakan untuk siperti sampel usaha penentuan trace element dan logam-logam beracun. Jadi, pada percobaan yang dilakukan, dilakukan penetuan kadar abu dengan cara kering.
Abu tulang tersebut kemudian ditambahkan larutan HNO3 dan disaring. Filtratnya ditambahkan NH3 pekat sampei terbentuk endapan putih dari fosfat dan disaring. Uji kualitatif yang dilakukan adalah uji endapan dan uji kalsium. Hasil percobaan yang diperoleh dapat dilihat pada tabel berikut.
Pada uji endapan, endapan putih yang terbentuk yaitu fosfat ditambahkan dengan asam asetat encer dan endapan tersebut larut. Sedangkan uji kalsium pada filtrat dengan penambahan larutan (NH4)2C2O4 10%, terbentuk endapan putih dari CaC2O4 yang menunjukkan adanya mineral kalsium dalam sampel tulang, sesuai persamaan reaksi berikut.
Ca2+(aq)          +       (NH4)2C2O4(aq)                    CaC2O4(s)      +     2 NH4+(aq)


BAB V
PENUTUP
A.    Simpulan
Dari percobaan yang dilakukan, dapat disimpulkan bahwa :
1.      Kadar vitamin C yang terkandung dalam sampel yaitu 2,93 %.
2.      Hasil uji kualitatif terhadap abu tulang yaitu pada uji endapan dan uji kalsium memberikan hasil uji yang positif.











DAFTAR PUSTAKA
Adnan, 2006,’ Komposisi Kimia Sel’, Makassar
Anonim, 2007, ’ Peran Mineral Dalam Proses Fisiologis Ternak’, Jurnal Litbang Pertanian, 26(3), Bogor
Handayani T., Sutarno, Setyawan A.D., 2004, ‘Analisis Komposisi Nutrisi Rumput Laut Sargassum crassifolium J. Agardh’, Jurnal Biofarmasi 2 (2), Surakarta
Irianto, 2008, ‘Metabolisme’, Yogyakarta
Radinal,  Indra, Marliah, 2008,’Vitamin’, Darussalam
Zulfikar, 2008, ‘Kimia Kesehatan’, Jakarta

No comments: