radio muadz 94,3 fm kendari

radio muadz 94,3 fm kendari
radio muadz 94,3 fm kendari

February 02, 2011

Pengaruh lingkungan terhadap aktivitas enzim

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Enzim berperan sangat penting dalam proses metabolisme dan katabolisme di tubuh makhluk hidup. Enzim dikatakan sebagai suatu kelompok protein yang berperan penting di dalam aktifitas biologi. Enzim berfungsi sebagai katalisator di dalam sel dan sifatnya sangat khas. Didalam jumlah sangat kecil, enzim dapat mengatur reaksi tertentu sehingga di dalam keadaan normal tidak terjadi penyimpangan-penyimpangan hasil akhir reaksinya. Di dalam sel terdapat banyak jenis enzim yang berlainan kekhasannya. Artinya suatu enzim hanya mampu menjadi katalisator untuk reaksi tertentu saja. Ada enzim yang dapat mengkatalisa suatu kelompok substrat , adapula yang hanya satu substrat saja , dan ada pula yang bersifat stereospesifik. Karena enzim mengkataliser reaksi-reaksi di dalam sistim biologis, maka enzim juga disebut sebagai Biokatalisator.
Sebagai biokatalisator yang mengatur semua kecepatan semua proses fisiologis, enzim memegang peranan penting dalam dunia kesehatan dan patologi. Meskipun dalam keadaan sehat semua proses fisiologis akan berlangsung dengan cara yang tersusun serta teratur sementara homeostasis akan dipertahankan, namun keadaan homeostasis dapat mengalami gangguan yang berat dalam keadaan patologis.
Pemanfaatan enzim secara komersial terus dipelajari dan diterapkan, dalam kajian yang dilakukan hingga saat ini telah diketahui bahwa enzim hanya dapat bekerja baik pada kondisi lingkungan tertentu, seperti suhu, pH, konsentrasi substrat dan sebagainya. Oleh karena itu sangat perlu dilakukan kajian teoritis dan praktis  mengenai aktivitas enzim dalam berbagai kondisi lingkungan

B. Rumusan Masalah
Permasalahan yang perlu dikaji pada praktikum kali ini adalah sebagai berikut :
1.    Bagaimana pengaruh konsentrasi substrat terhadap aktivitas enzim invertase?
2.    Bagaimana pengaruh suhu terhadap aktivitas enzim invertase?
3.    Bagaimana pengaruh pH terhadap aktivitas enzim invertase ?
C. Tujuan Percobaan
Berdasarkan rumusan masalah diatas, maka tujuan dari praktikum ini adalah :
1.    Mengetahui pengaruh konsentrasi substrat terhadap aktivitas enzim invertase.
2.    Mengetahui pengaruh suhu terhadap aktivitas enzim invertase.
3.    Mengetahui pengaruh pH terhadap aktivitas enzim invertase.
D. Manfaat Percobaan
Manfaat yang dapat diperoleh dari praktikum kali ini adalah sebagai berikut :
1.    Dapat mengetahui pengaruh konsentrasi substrat terhadap aktivitas enzim invertase.
2.    Dapat mengetahui pengaruh suhu terhadap aktivitas enzim invertase.
3.    Dapat mengetahui pengaruh pH terhadap aktivitas enzim invertase


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Enzim dikatakan sebagai suatu kelompok protein yang berperan penting di dalam aktifitas biologi. Enzim berfungsi sebagai katalisator di dalam sel dan sifatnya sangat khas. Didalam jumlah sangat kecil, enzim dapat mengatur reaksi tertentu sehingga di dalam keadaan normal tidak terjadi penyimpangan-penyimpangan hasil akhir reaksinya. Di dalam sel terdapat banyak jenis enzim yang berlainan kekhasannya. Artinya suatu enzim hanya mampu menjadi katalisator untuk reaksi tertentu saja . Ada enzim yang dapat mengkatalisa suatu kelompok substrat , adapula yang hanya satu substrat saja , dan ada pula yang bersifat stereospesifik. Karena enzim mengkataliser reaksi-reaksi di dalam sistim biologis, maka enzim juga disebut sebagai Biokatalisator (Simanjuntak dan Silalahi, 2003).
Beberapa enzim mempunyai aktifitas diantaranya spesifik untuk D dan L isomer optik . Enzim L- asam amino oksidase hanya pada L- asam amino oksidase tidak bereaksi terhadap isomer D- asam amino . Beberapa enzim memerlukan suatu ko-faktor yang bukan protein dan biasanya agak longgar berikatan dengan enzim. Ko-faktor itu disebut gugus prostetik. Banyak juga enzim yang memerlukan ko-faktor logam seperti Mn++, Fe++,Mg++, dll. Di dalam proses isolasi kadang-kadang ko-faktor yang berikatan longgar pada enzim terlepas sehingga menyebabkan aktifitas enzim menurun atau bahkan hilang. Bagian protein dari enzim disebut apo-enzim, sedangkan enzim keseluruhannya disebut holoenzim.
Enzim Invertase, dikenal sebagai β-fructofuranoside fructohydrolase (EC 3.2.1.26) merupakan sebuah katalis untuk hidrolisis sukrosa yang menghasilkan fruktosa dan glukosa (gula invert). Invertase ditemukan di dalam ragi. Aktivitas enzim invertase ditentukan dengan menginkubasi substrat dan enzim pada suatu batas waktu tertentu, selanjutnya jumlah gula invert ditentukan dengan metode tertentu seperti metode Bradford (Hasanah dan Putra, 2010).
Sedangkan pemanfaatan enzim invertase banyak dilakukan dalam industri makanan dan minuman khususnya pada pengolahan selai, permen, produk gula-gula, dan produksi asam laktat dari fermentasi sirup tebu. Invertase juga digunakan untuk memproduksi etanol dari sukrosa sebagai sumber karbon (Lee Huang, 2000).
Kemampuan enzim dalam mengkatalisis reaksi kimia dipengaruhi oleh kondisi lingkungan yang meliputi pH, temperatur, waktu inkubasi, dan konsentrasi substrat. Enzim invertase banyak ditemukan pada ragi roti yang mengandung khamir Saccharomyces ceriviseae. mempunyai aktivitas paling tinggi pada pH 4,5 dan temperatur 30oC (Hasanah dan Putra, 2010).
Reaksi yang menggunakan katalis enzim sangat dipengaruhi oleh suhu. Pada suhu rendah reaksi kimia berlangsung lambat, sedangkan pada suhu yang lebih tinggi reaksi berlangsung lebih cepat. Di samping itu, karena enzim adalah suatu protein, maka kenaikan suhu dapat menyebabkan terjadinya proses denaturasi. Apabila proses denaturasi terjadi, maka bagian aktif enzim akan terganggu dan dengan demikian konsentrasi efektif enzim menjadi berkurang dan kecepatamn reaksinya ikut menurun (Poedjiadi, 1994). Selain suhu yang terlampau tinggi kehadiran inhibitor lain juga dapat mengurangi aktivitas enzim invertase, inhibitor tersebut seperti enzim inulinase (Nakamura dkk, 1995 dalam Saryono et al., 1999) dan logam silikon (Makarim et al., 2007).

BAB III
METODE PRAKTIKUM

A. Waktu dan Tempat
Praktikum ini dilaksanakan di Laboratorium Kimia Jurusan Kimia Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Haluoleo. Waktu praktikum ini dilaksanakan selama dua hari yakni pada tanggal 10-11 Desember 2010.
B. Alat dan Bahan
1.     Alat
Alat-alat yang digunakan pada percobaan ini adalah blender, tabung reaksi, water-bath, erlenmeyer, neraca analitik, spektronik 20-D, gelas kimia, pipet ukur 10 mL dan 25 mL, kapas, corong, kuvet, aluminium foil, sentrifuse, botol semprot, mortal, pastel dan batang pengaduk.
2.    Bahan
Bahan-bahan yang digunakan pada percobaan ini adalah larutan enzim, larutan DNS, sukrosa 0,25 M, larutan buffer asetat pH 5.6, 6.4, dan 9, dan akuades.


C. Prosedur Kerja
1.   
Larutan enzim
Pengaruh konsentrasi subtrat terhadap aktivitas enzim invertase
Sukrosa (mL)  : 0; 0,2; 0,4; 0,8; 1,0
Absorbansi      : 0;  0,122; 0,347; 0,355; 0,462

Tabung 1
-       Dimasukkan masing - masing 1 mL ke dalam 5 tabung reaksi
Tabung 2
Tabung 3
Tabung 4
Tabung 5
-   Ditambahkan sukrosa 0,8 mL
-   Ditambahkan aquades 0,2 ml
-   Diinkubasi 15 menit

-   Ditambahkan sukrosa 0,2 mL
-   Ditambahkan aquades 0,8 ml
-   Diinkubasi 15 menit
-   Ditambahkan sukrosa 0,4 mL
-   Ditambahkan aquades 0,6 ml
-   Diinkubasi 15 menit

-   Ditambahkan sukrosa 0,6 mL
-   Ditambahkan aquades 0,4 ml
-   Diinkubasi 15 menit

-  Ditambahkan 1 mL DNS
-  Ditambahkan 2 mL akuades
-  Dipanaskan selama 15 menit
-  Didinginkan dalam air es
-  Diencerkan dengan akuades sampai 10 mL
-  Diukur absorbansinya pada l 540 nm
-  Diplotkan grafik konsentrasi vs absorbansinya


-  Diinkubasi 15 menit
 














2.   
Larutan enzim
Pengaruh suhu terhadap aktivitas enzim invertase
-  Dimasukkan 1 mL pada 4 tabung reaksi
-  Ditambahkan 1 mL larutan sukrosa pada masing-masing tabung
-  Diinkubasi pada suhu kamar, 40 0C, 60 0C, dan 80 0C
-  Ditambahkan 1 mL DNS
-  Ditambahkan 2 mL akuades
-  Dipanaskan selama 15 menit
-  Didinginkan dengan air es
-  Diencerkan sampai volume 10 mL
-  Diukur absorbansinya pada l 540 nm
-  Diplotkan grafik konsentrasi vs absorbansinya
-   
Suhu (0C)          = kamar, 40, 60, 80
Absorbansi        = 0,249; 0,294; 0,063; 0
 









*  
1 mL buffer pH 5,4
Pembuatan Blanko
Absorbansi = 0
-  Dimasukkan 1 mL pada 4 tabung reaksi
-  Diinkubasi pada suhu kamar, 40 0C, 60 0C, dan 80 0C
-  Ditambahkan 1 mL DNS
-  Ditambahkan 2 mL akuades
-  Dipanaskan selama 15 menit
-  Didinginkan dengan air es
-  Diencerkan sampai volume 10 mL

 








3.   
Larutan enzim
Pengaruh pH terhadap aktivitas enzim invertase
pH                     = 5,6; 6,4; 9
Absorbansi        = 0,132; 0,484; 0,429
-  Dimasukkan 1 mL pada 3 tabung reaksi
-  Ditambahkan 1 mL larutan sukrosa pada masing-masing tabung
-  Ditambahkan buffer pH 5,4; 6,4; 9
-  Diinkubasi selama 15 menit
-  Ditambahkan 1 mL DNS
-  Ditambahkan 2 mL akuades
-  Dipanaskan selama 15 menit
-  Didinginkan dengan air es
-  Diencerkan sampai volume 10 mL
-  Diukur absorbansinya pada l 540 nm
-  Diplotkan grafik konsentrasi vs absorbansinya
-   
 









*  
1 mL buffer pH 5,4; 6,4; 9
Pembuatan blanko
-  Dimasukkan 1 mL pada 3 tabung reaksi
-  Diinkubasi selama 15 menit
-  Ditambahkan 1 mL DNS
-  Ditambahkan 2 mL akuades
-  Dipanaskan selama 15 menit
-  Didinginkan dengan air es
-  Diencerkan sampai volume 10 mL
Absorbansi = 0
 







*  
20, 40, 60, 80 dan 100 ppm larutan glukosa

Pembuatan Standar Glukosa
-       dimasukkan 1 mL dalam  tabung reaksi
-       ditambahkan 2 mL DNS
-       ditambahkan 1 mL bufer pH 5,6
-       dipanaskan dalam air mendidih selama 15 menit
-       didinginkan
-       ditambahkan akuades hingga 10 mL
-       diukur absorbansinya pada l = 540 nm
-       diplot kurva hubungan absorbansi Vs konsentrasi
-       ditentukan persamaan garis kurva standar larutan glukosa


y = 0,002x  +  0,002

 

























DAFTAR PUSTAKA
Hasanah, Elok Nur Isro’ul dan Surya Rosa Putra, 2010, Karakterisasi Ekstrak Kasar         Enzim Invertase yang Diamobilisasi dengan Na-Alginat, Prosiding Skripsi, ITS.

Lee WC, and Huang CT., 2000, Modelling of ethanol production using Zymomonas           mobilis ATTC 10988 grown on the media containing glucose and fructose,            Biochemical Engineering Journal, 4.

Makarim, A.K., E. Suhartatik dan A. Kartohardjono, 2007, Silikon: Hara Penting pada     Sistem Produksi Padi, IPTEK Tanaman Pangan Vol. 2 No.2

Nakamura T., Y. Ogata, A. Shitasa, A. Nakamura dan K. Ohta, 1995, Continuous             Production of Fructose Syrups from Inulin by Immobilized Inulinase from     Aspergillus niger Mutan 817, J. of Fermentation and Bioeng., 80(2).

Saryono, Is Sulistyawati P., Delita Zul dan Atria Martina, 1999, Identifikasi Jamur            Pendegradasi Inulin pada Rizosfir Umbi Dahlia (Dahlia variabilis), Jurnal       Natur Indonesia II (1).

Simanjuntak, M.T. dan J. Silalahi, 2003, Biokimia, Farmasi-FMIPA, Universitas     Sumatera Utara.




BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
Enzim Invertase merupakan katalis pada hidrolisis sukrosa menghasilkan glukosa dan fruktosa (gula invert). Dalam dunia industri makanan, enzim ini sangat berperan aktif dalam produksi makanan tertentu, oleh sebab itu pada percobaan ini ingin diketahui faktor-faktor apa saja yang dapat  mengganggu atau memperbaiki aktivitas enzim invertase.






Gambar 1. Struktur molekul enzim invertase
Enzim invertase menghidrolisis sukrosa menjadi glukosa dan fruktosa berdasarkan reaksi  berikut:
Gambar 2 Reaksi hidrolisis sukrosa oleh enzim invertase
Enzim invertase merupakan enzim amobil yakni enzim yang diisolasi dengan metode amobilasi enzim. Teknik ini bekerja dengan cara mengikatkan enzim pada bahan-bahan yang tidak larut dalam air (hidrofobik) sehingga ketika sudah tidak dibutuhkan enzim dapat dipisahkan secara mudah dari produk yang dihasilkan. Enzim amobil memiliki banyak kelebihan; diantaranya dapat digunakaan berulang kali, aktivitas enzim terjaga, pemisahan dan pembentukan kembali enzim mudah dilakukan karena enzim terpisah dari substratnya, dan menurunkan biaya produksi.
Enzim invertase banyak terdapat pada ragi roti yang mengandung khamir Saccharomycees ceriviceae. Namun dikarenakan enzim tersebut yang merupakan enzim intraseluler sehingga untuk melihat aktivitasnya dan daya kerjanya enzim harus diisolasi dari sel mikroba tersebut. Dalam prosedur percobaan yang dilakukan 50 gr ragi diblender dengan larutan Natrium Karbonat 0,1M. Sebelum diblender ragi dihaluskan terlebih dahulu dengan menggunakan blender kering, penghalusan berfungsi untuk meningkatkan luas permukaan dari ragi sehingga akan semakin banyak permukaan ragi yang bersentuhan dengan larutan Natrium Karbonat, larutan Natrium Karbonat sendiri berfungsi dalam melarutkan khamir dan pada proses pemecahan dinding sel oleh sentrifusa enzim invertase akan keluar dari sel dan larut ke dalam larutan Natrium Karbonat.
Kemudian campuran yang sudah diblender disimpan dalam erlenmeyer yang diberi tutup kapas-kasa dan dilapisi dengan alumunium foil serta diberi lubang angin. Proses ini dilakukan untuk meminimalkan kontak dengan udara luar sehingga diperoleh hasil inkubasi yang lebih sempurna. Inkubasi ragi dilakukan selama 24 jam dengan suhu inkubasi sebesar 40oC. Suhu diatur sebesar 40oC karena jika suhu terlalu panas maka mikroorganisme penghasil enzim invertase akan mati, sehingga enzim tidak akan diperoleh. Inkubasi dilakukan selama 24 jam agar proses inkubasi lebih optimal.
Setelah inkubasi selesai, tahap selanjutnya adalah pemecahan sel yang dilakukan dengan sentrifusa. Pemecahan dinding sel diperlukan agar enzim invertase yang berada di dalam sel dapat keluar sehingga dihasilkan enzim yang lebih banyak. Proses pemecahan sel ini dilakukan dengan cara keras, yaitu menggunakan sentrifusa dengan kuat getaran 3000 rpm selama 20 menit. Prinsip dari alat ini adalah memecah sel dengan proses fisika yakni getaran yang hebat. Perlu diperhatikan bahwa dalam proses pemecahan sel ini sangat dimungkinkan terjadinya peningkatan suhu pada sentrifusat sehingga sebaiknya suhu sentrifusat didinginkan dengan meletakkanya di dalam beker gelas yang berisi air dingin. Suhu yang tinggi dapat menghentikan aktivitas enzim.
Dari proses ini juga akan memisahankan pecahan dinding sel dari supernatannya. Karena selain memecahkan dinding sel sentrifusa juga berperan dalam proses pemisahan ekstrak enzim yang didasarkan pada berat molekul dengan menggunakan gaya sentrifugal. Sehingga nantinya berat molekul yang ringan akan berada diatas dan yang berat berada dibawah. Setelah disentrifuge, supernatan didekantasi dari residu/pecahan dinding-dinding sel, maka hasil yang diperoleh berupa ektrak kasar enzim invertase yang berwarna cokelat.
Dari larutan enzim tersebut ingin diketahui seberapa besar aktivitas yang dimiliki jika enzim diinkubasi dalam variasi konsentrasi substrat, suhu dan pH. Pada variasi konsentrasi substrat, substrat yang dibuat bervariasi adalah sukrosa dalam 5 tabung dengan variasi volume 0 ml hingga 1 ml dengan range 0,2 ml. Kemudian larutan campuran diinkubasi pada suhu kamar selama 15 menit. Berdasarkan teori laju hidrolisa enzim sangat bergantung pada konsentrasi substrat yang ada. Semakin banyak substrat yang diberikan maka aktivitas enzim hidrolisa juga akan semakin baik (dalam kondisis tertentu), hal ini dapat dijelaskan dari segi sisi aktif enzim tersebut. Enzim memiliki sisi aktif yang berperan dalam mengaktifkan kinerja enzim, semakin banyak substrat yang diberikan maka akan semakin besar probabilitas substrat dalam mengaktifkan enzim dikarenakan ukuran substrat umumnya lebih kecil dari pada enzim
Gambar 3. Ilustrasi pengaktivan enzim oleh substrat
Metode analisis yang digunakan adalah dengan menggunakan instrument spektronik 20D, analisa dilakukan pada panjang gelombang 540 nm. Dikarenakan pekatnya larutan enzim yang dihasilkan maka diperlukan pengenceran hingga konsentrasinya berbanding 10 dari konsentrasi awal larutan. Pengenceran bertujuan untuk memudahkan dalam pembacaan absorbansi larutan oleh instrument spektronik 20D. Dari perlakuan tersebut diketahui absorbansi larutan cenderung meningkat dari volume substrat 0 ml hingga 1 ml, kecuali pada volume substrat 0,8 ml yang peningkatannya tidak jauh beda dengan tabung bervolume substrat 0,4 ml. Kemudian konsentrasi larutan enzim ditentukan dengan cara mengekstrapolasikan absorbansinya pada persamaan garis yang ditampilkan oleh kurva standar BSA. Adapun persamaan garisnya adalah y = 0,002x + 0,002 sehingga dengan memasukkan nilai absorbansi dari larutan enzim yang telah diencerkan dapat diketahui konsentrasi enzim tersebut, yakni sebesar 0; 60; 172,5; 176,5 dan 230 mg/mL berturut-turut dari tabung 1 - 5.
Konsentrasi tersebut kemudian dapat dianalisa untuk mendapatkan aktivitas enzim invertase dengan melihat produk glukosa yang terbentuk. Analisis dilakukan dengan rumus berikut:
Aktivitas  =
Dari analisis tersebut diperoleh data sebagai berikut
Larutan
Konsentrasi (mg/mL)
Aktivitas (unit/mL)
0,2
60
11,11
0,4
172,5
31,94
0,8
176,5
32,68
1
230
42,59
Data tersebut sebenarnya bukan merupakan hasil final dari pengukuran aktivitas enzim terhadap variasi substrat, namun dari hasil ini telah dapat dijadikan acuan bahwa aktivitas enzim cenderung meningkat seiring konsentrasi substrat.
Adapun aktivitas enzim terhadap variasi suhu dilakukan dengan cara yang hampir sama dengan perlakuan sebelumnya, hanya saja konsentrasi substrat yang diberikan untuk setiap tabung adalah sama dan suhu inkubasi yang berbeda-beda. Dalam prosedur yang dilakukan digunakan 4 variasi suhu inkubasi, yakni suhu kamar, 40; 60; dan 80oC. Inkubasi dilakukan selama 15 menit kemudian absorbansi diukur dengan instrumen spektronik 20D. Dari data yang diperoleh, aktivitas enzim sangat baik pada suhu inkubasi 40oC. Adapun data tersebut ditampilkan dalam tabel berikut:
Suhu (°C)
Konsentrasi (mg/mL)
Aktivitas (unit/mL)
Kamar
123,5
22,87
40
146
27,03
60
33,5
6,203
80
0
0
Dari data tersebut diketahui aktivitas enzim mulai berkurang pada suhu 43oC dan terhenti pada suhu 80oC. Hal ini menyatakan bahwa enzim tidak bekerja pada suhu tinggi karena enzim yang merupakan protein akan terdenaturasi pada suhu tinggi. Ketika enzim terdenaturasi maka strukturnya pun akan berubah dan mengakibatkan enzim tidak berfungsi lagi.
Selanjutnya pengukuran aktivitas enzim pada pH yang berbeda, adapun variasi pH yang diberikan adalah 5,6; 6,4 dan 9. Prosedur ini bertujuan untuk mengetahui pada pH berapa aktivitas enzim optimum dalam melakukan aktivitasnya. Dengan perlakuan yang sama dengan prosedur sebelumnya, karakteristik tersendiri dari prosedur ini adalah penambahan buffer pH dengan nilai di atas.
Kemudian diperoleh data seperti berikut:
pH
Absorbansi
Konsentrasi (mg/mL)
Aktivitas (unit/mL)
5,6
0,132
60,5
11,203
6,4
0,484
241
44,62
9
0,429
213,5
59,53
Dari data tersebut dapat diketahui bahwa enzim bekerja secara baik pada pH basa tepatnya pH 9 dan kurang aktif pada pH asam, mengingat asam dapat mendenaturasi protein seperti suhu tinggi.


BAB V
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Berdasarkan hasil percobaan yang telah dilakukan dan hasil pengamatan yang diperoleh maka dapat ditarik kesimpulan bahwa Aktivitas enzim dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya :
1.      Aktivitas enzim dapat dipengaruhi oleh konsentrasi substrat dimana semakin tinggi konsentrasi substrat maka akan menaikkan kecepatan reaksi enzim dengan nilai aktivitas enzim yang semakin bertambah.
2.      Aktivitas enzim dipengerahui oleh suhu, diamana pada suhu yang rendah maka reaksi akan berlangsung lambat sedangkan pada suhu yang lebih tinggi reaksi akan berlangsung lebih cepat, dimana kenaikan suhu dapat menyebabkan denaturasi yang akan mengganggu bagian aktif enzim dan kecepatan reaksinya melambat.
3.       pH dapat mempengaruhi aktivitas enzim, diaman semakin tinggi pH yang digunakan maka kecepatan reaksinya semakin meningkat.
B.     Saran
Adapun saran yang dapat diajukan dari hasil yang telah diperoleh adalah sebaiknya uji kuantitatif fruktosa juga dilakukan agar didapatkan aktivitas enzim invertase yang sebenarnya.

Lampiran
1.    Pengaruh Konsentrasi Substrat Terhadap Aktivitas Enzim
*   Pembuatan Kurva standar
Absorbansi
2
4
6
8
10
0,002
0,007
0,018
0,049
0,004







*   Grafik














Volume Substrat (mL)
Absorbansi
0
0,2
0,4
0,8
1,0
0
0,122
0,347
0,355
0,462

A  Menentukan konsentrasi gula invert tiap tabung
Berdasarkan persamaan garis kurva larutan standar y = 0.002 x + 0.002,  diperoleh konsentrasi gula invert tiap tabung :
Þ         x  =  
          Dengan cara yang sama diperoleh :
Larutan
Absorbansi
Konsentrasi (mg/mL)
0,2
0,122
60
0,4
0,347
172,5
0,8
0,355
176,5
1
0,462
230

A  Menentukan aktivitas enzim tiap tabung
Berdasarkan persamaan :
Aktivitas  =
Diperoleh aktivitas enzim :
Þ  Aktivitas       =
                                    = 11,11 unit/mL
Dengan cara yang sama diperoleh :
Larutan
Konsentrasi (mg/mL)
Aktivitas (unit/mL)
0,2
60
11,11
0,4
172,5
31,94
0,8
176,5
32,68
1
230
42,59

A  Menentukan konsentrasi akhir substrat
Berdasarkan rumus pengenceran :
Þ  Larutan  0,2 mL
V1 . M1 = V2 . M2
0,2 mL . 0,45 mg/mL  =  1 mL . M2
M2 = 0,09 mg/mL
Dengan cara yang sama diperoleh :


V1  (mL)
M1 (mg/mL)
V2(mL)
M2 (mg/mL)
0,2
0,45
1
0,09
0,4
0,45
1
0,18
0,8
0,45
1
0,36
1
0,45
1
0,45

A  Menentukan kurva aktivitas vs konsentrasi substrat
A   
Aktivitas (unit/mL)
M2 (mg/mL)
11,11
0,09
31,94
0,18
32,68
0,36
42,59
0,45

Dari data di atas diperoleh

2.    Pengaruh suhu terhadap aktivitas enzim
Suhu (oC)
Kamar
40
60
80
Absorbansi
0,249
0,294
0,069
0

A  Menentukan konsentrasi gula invert tiap tabung
Berdasarkan persamaan garis kurva larutan standar 0.002 x + 0.002, diperoleh konsentrasi gula invert tiap tabung :
Þ              x  =   
Dengan cara yang sama diperoleh :
Suhu (°C)
Absorbansi
Konsentrasi (mg/mL)
Kamar
0,249
123,5
40
0,293
146
60
0,069
33,5
80
0
0

A  Menentukan aktivitas enzim tiap tabung
Berdasarkan persamaan :
Aktivitas  =
Diperoleh aktivitas enzim :
Þ    Aktivitas      =
                           = 22,87 unit/mL
Dengan cara yang sama diperoleh :
Suhu (°C)
Konsentrasi (mg/mL)
Aktivitas (unit/mL)
Kamar
123,5
22,87
40
146
27,03
60
33,5
6,203
80
0
0

A  Menentukan kurva aktivitas vs suhu

Suhu (°C)
Aktivitas (unit/mL)
Kamar
22,87
40
27,03
60
6,203
80
0

Dari data di atas diperoleh :

Suhu Optimum

3.    Pengaruh pH terhadap aktivitas enzim
pH
5,6
6,4
9
Absorbansi
0,123
0,484
0,429

A  Menentukan konsentrasi gula invert tiap tabung
Berdasarkan persamaan garis kurva larutan standar y = 0.002 x + 0.002, diperoleh konsentrasi gula invert tiap tabung :
Þ    x  =   
Dengan cara yang sama diperoleh :
pH
Absorbansi
Konsentrasi (mg/mL)
5,6
0,132
60,5
6,4
0,484
241
9
0,429
213,5

A  Menentukan aktivitas enzim tiap tabung
Berdasarkan persamaan :
Aktivitas  =
Diperoleh aktivitas enzim :
Þ  Aktivitas       =
                  = 11,203 unit/mL
Dengan cara yang sama diperoleh :
pH
Konsentrasi (mg/mL)
Aktivitas (unit/mL)
5,6
60,5
11,203
6,4
241
44,62
9
213,5
59,53

A  Menentukan kurva aktivitas vs pH

pH
Aktivitas (unit/mL)
5,6
11,203
6,4
44,62
9
59,53

Dari data di atas diperoleh :
pH optimum

LAPORAN SEMENTARA
PERCOBAAN IX
Hari, tanggal   : Sabtu, 11 Desember 2010
Judul               ; Pengaruh suhu, pH, dan Konsentrasi subtrat terhadap aktivitas enzim
Data pengamatan
1). Pengaruh konsentrasi substrat
Larutan (mL)
Blanko
0,2
0,4
0,8
1
Absorbansi
0
0,122
0,347
0,355
0,462

2). Pengaruh suhu
Suhu (°C)
30
40
60
80
Absorbansi
0,249
0,293
0,069
0

3). Pengaruh pH
pH
5,6
6,4
7
8
Absorbansi
0,132
0,484
0,429
0,276
Kendari, 11 Desember 2010
Asisten Pembimbing




 


No comments: