radio muadz 94,3 fm kendari

radio muadz 94,3 fm kendari
radio muadz 94,3 fm kendari

February 02, 2011

Morfologi Mikroba

I.                   JUDUL
Percobaan ini berjudul : Morfologi Mikroba
II.                TUJUAN
Tujuan dari percobaan ini adalah :
1.      Mengetahui sifat-sifat morfologi bakteri
III.             PRINSIP DASAR
Menurut bentuk dan struktur selnya makhluk hidup dibedakan menjadi dua yaitu makhluk hidup bersel banyak dan makhluk hidup bersel satu, makhluk ini tidak dapat terlihat dengan mata kita,  karena panca indra manusia memiliki kemampuan daya pisah atau daya lihat yang sangat terbatas.  Oleh karena itu banyak masalah mengenai benda atau organisme yang akan diamati dan pengamatan itu hanya bisa dilakukan dengan menggunakan alat bantu.  Salah satu alat bantu yang sering digunakan dalam penelitian atau pengamatan tentang organisme yang tidak bisa dilihat dengan mata, terutama dalam bidang kedokteran dan biologi adalah mikroskop dalam (bahasa latin mikro diartikan kecil sedangkan scopium berarti penglihatan). Mikroskop sering digunakan untuk, meningkat kemampuan daya pisah atau lihat seseorang sehingga memungkinkan dapat mengamati obyek yang sangat halus dan tidak dapat terlihat oleh mata terbuka (Dwidjoseputro, 1994).

Bakteri adalah makhluk hidup yang kecil sehingga tidak bisa di lihat dengan mata telanjang (tanpa bantuan alat pembesar). Begitu juga halnya dengan paramecium dan sebagainya sehingga bantuan alat pembesar ini sangat diperlukan. Alat pembesar ini selain diperlukan untuk melihat bakteri, alat pembesar juga sangat diperlukan untuk melihat isi dari sel pada makhluk hidup, bentuk organisme-organisme yang kecil, untuk melihat jaringan yang ada di dalam tubuh organisme, serta banyak lagi hal lainnya (Syamsuri, 2000).
Bakteri dapat digolongkan menjadi dua kelompok yaitu Gram positif dan Gram negatif didasarkan pada perbedaan struktur dinging sel. Pada umumnya bakteri gram negatif lebih tahan terhadap aktivitas antimikroba dibandingkan dengan bakteri gram positif. Perbedaan daya tahan ini disebabkan karena perbedaan komponen penyusun dinding sel (Rahayu, 2000). Bakteri Gram positif memiliki dinding sel yang terdiri dari 40 lapis rangka dasar murein, meliputi 30-70 % berat kering dinding sel bakteri. Murein adalah senyawa yang tersusun dari N-asetil glukosamin dan N-asetil asam muramat yang terikat oleh ikatan 1,4-β-glikosida. Senyawa lain penyusun dinding sel gram positif adalah polisakarida yang terikat secara kovalen, dan asam teikoat yang sangat spesifik. Sementara bakteri Gram negatif memiliki 1 lapis rangka dasar murein, dan hanya meliputi + 10% dari berat kering dinding sel. Murein hanya mengandung diaminopemelat, dan tidak mengandung lisin. Di luar rangka murein tersebut terdapat sejumlah besar lipoprotein, lipopolisakarida, dan lipida jenis lain. Senyawa-senyawa ini merupakan 80 % penyusun dinding sel. Asam teikoat tidak terdapat dalam dinding sel ini (Sumarsih, 2003).
Text Box: Bakteri gram-positif Bacillus anthracis (batang ungu) pada cairan serebrospinal. Sel yang lain adalah sel darah putih.


Text Box: Bakteri gram negatif Pseudomonas aeruginosa berbentuk batang berwarna merah muda
 


Bakteri merupakan makhluk hidup uniseluler (prokariotik) yang dapat bersifat patogen (penyakit) dan non patogen bagi manusia. Bakteri pada umumnya hidup secara berkoloni, ciri-ciri koloni bakteri adalah sebagai berikut:
Beberapa bakteri sulit diwarnai dengan zat warna basa. Tapi mudah dilihat dengan pewarnaan negatif. Zat warna tidak akan mewarnai sel melainkan mewarnai lingkungan sekitarnya, sehingga sel tampak transparan dengan latar belakang hitam. Pewarnaan diferensial yang sangat berguna dan paling banyak digunakan dalam laboratorium mikrobiologi, karena merupakan tahapan penting dalam langkah awal identifikasi. Pewarnaan ini didasarkan pada tebal atau tipisnya lapisan peptidoglikan di dinding sel dan banyak sedikitnya lapisan lemak pada membran sel bakteri. Jenis bakteri berdasarkan pewarnaan gram dibagi menjadi dua yaitu gram positif dan gram negatif. Bakteri gram positif memiliki dinding sel yang tebal dan membran sel selapis. Sedangkan baktri gram negatif mempunyai dinding sel tipis yang berada di antara dua lapis membran sel (Anonymous, 2008).
IV.             ALAT DAN BAHAN
1.      Alat yang digunakan dalam percobaan ini adalah:
-          Mikroskop Cahaya
-          Kaca Objek
-          Pipet tetes
-          Tabung Reaksi
-          Ose Bulat
-          Cawan Petri
2.      Bahan yang digunakan dalam percobaan ini adalah:
-          Sampel bakteri
-          Larutan alkohol
-          Larutan metilen blue
-          Larutan Lugol
-          Larutan kirstal Violet
V.                CARA KERJA
1.      Text Box: Kaca ObjekPenyiapan Olesan
 








2.      Uji Pewarnaan Sederhana






3.      Uji Pewarnaan Gram


VI.             HASIL PERCOBAAN DAN PEMBAHASAN
1.      Hasil Percobaan
a.       Uji pewarnaan sederhana
Cara Kerja :
Dampak/Hasil
Buat preparat ulas (smear) yang telah difiksasi dari bakteri sampel
Sel bakteri tertempel pada permukaan kaca (object glas)
Teteskan metilen blue sebagai pewarna utama pada preparat, usahakan ulasan terwarnai dan tunggu selama ± 1 menit
Metilen blue akan mewarnai seluruh permukaan sel bakteri sampel
Cuci dengan akuades mengalir
Keringkan preparat dengan kertas tissue yang ditempelkan di sisi ulasan (jangan sampai merusak ulasan) lalu biarkan mengering di udara.
Hasil pewarnaan sederhana dilihat dari mikroskop

b.      Uji pewarnaan gram
Cara Kerja :
Dampak/Hasil
Buat preparat ulas (smear) yang telah difiksasi dari bakteri sampel
Sel bakteri tertempel pada permukaan kaca (object glas)
Teteskan kristal violet sebagai pewarna utama pada preparat, usahakan ulasan terwarnai dan tunggu selama ± 1 menit
Kristal ungu akan mewarnai seluruh permukaan sel bakteri sampel
Cuci dengan akuades mengalir

Teteskan mordant (lugol,s iodine) lalu tunggu ± 1 menit
Adanya lugol’s iodine menyebabkan adanya ikatan CV dengan iodine yang akan meningkatkan afinitas pengikatan zat warna oleh bakteri. Pada gram positif dapat terbentuk CV iodinribonukleat pada dinding sel
Cuci dengan akuades mengalir

Beri larutan pemucat (ethanol 96%/ aseton) setetes demi setetes hingga etanol yang jatuh berwarna jernih. Jangan sampai terlalu banyak (overdecolorize)
Penetesan etanol absolut menyebabkan terbentuknya pori-pori pada gram negatif yang memiliki banyak lapisan lemak (lipid larut dalam etanol), sehingga komplek CV-iodine akan lepas dari permukaan sel gram negatif, sedangkan pada gram positif CV-iodine tetap menempel di dinding sel, sel gram negatif menjadi bening
Cuci dengan akuades mengalir
Keringkan preparat dengan kertas tissue yang ditempelkan di sisi ulasan (jangan sampai merusak ulasan) lalu biarkan mengering di udara.
Hasil dari pewarnaan gram dilihat dari mikrskop
Gram positif :  Bacillus anthracis (batang ungu)

2.      Pembahasan
Dunia mikrobiologi sangat erat kaitannya dengan mikroba, atau dengan kata lain hewan berukuran renik. Secara garis besar, mikroba terbagi atas lima golongan besar yaitu, bakteri, jamur, kapang, virus dan mikro alga. Namun dalam percobaan kali ini, kami hanya menjadikan bakteri sebagai bahan amatan. Bakteri merupakan makhluk hidup uniseluler (prokariotik) yang dapat bersifat patogen (penyakit) dan non patogen bagi manusia. Bakteri pada umumnya hidup secara berkoloni, ciri-ciri koloni bakteri adalah berbentuk circular, irregular, flat, raised, spindle, filamentous, convex, umbonate dan rhizoid.
Dalam percobaan ini, pengamatan morfologi bakteri hanya difokuskan pada pewarnaan bakteri saja, sehingga bentuk-bentuk morfologi bakteri tidak akan dibahas lebih lanjut dalam laporan ini.
Sel bakteri dapat teramati dengan jelas jika digunakan mikroskop dengan perbesaran 100x10 yang ditambah minyak imersi. Jika dibuat preparat ulas tanpa pewarnaan, sel bakteri sulit terlihat. Pewarnaan bertujuan untuk memperjelas sel bakteri dengan menempelkan zat warna ke permukaan sel bakteri. Zat warna dapat mengabsorbsi dan membiaskan cahaya, sehingga kontras sel bakteri dengan sekelilingnya ditingkatkan.
Zat warna yang digunakan bersifat asam atau basa. Pada zat warna basa, bagian yang berperan dalam memberikan warna disebut kromofor dan mempunyai muatan positif. Sebaliknya pada zat warna asam bagian yang berperan memberikan zat warna memiliki muatan negatif. Zat warna basa lebih banyak digunakan karena muatan negatif banyak banyak ditemukan pada permukaan sel. Contoh zat warna asam antara lain Crystal Violet, Methylene Blue, Safranin, Base Fuchsin, Malachite Green dll. Sedangkan zat warna basa antara lain Eosin, Congo Red dll.
Sebelum dilakukan pewarnaan dibuat ulasan bakteri di atas object glass yang kemudian difiksasi. Jangan menggunakan suspensi bakteri yang terlalu padat, tapi jika suspensi bakteri terlalu encer, maka akan diperoleh kesulitan saat mencari bakteri dengan mikroskop. Fiksasi bertujuan untuk mematikan bakteri dan melekatkan sel bakteri pada object glass tanpa merusak struktur selnya.
Beberapa bakteri sulit diwarnai dengan zat warna basa. Tapi mudah dilihat dengan pewarnaan negatif (pewarnaan negatif tidak dilakukan). Zat warna tidak akan mewarnai sel melainkan mewarnai lingkungan sekitarnya, sehingga sel tampak transparan dengan latar belakang hitam. Pewarnaan diferensial yang sangat berguna dan paling banyak digunakan dalam laboratorium mikrobiologi, karena merupakan tahapan penting dalam langkah awal identifikasi. Pewarnaan ini didasarkan pada tebal atau tipisnya lapisan peptidoglikan di dinding sel dan banyak sedikitnya lapisan lemak pada membran sel bakteri. Jenis bakteri berdasarkan pewarnaan gram dibagi menjadi dua yaitu gram positif dan gram negatif. Bakteri gram positif memiliki dinding sel yang tebal dan membran sel selapis. Sedangkan baktri gram negatif mempunyai dinding sel tipis yang berada di antara dua lapis membran sel.
Pewarnaan bakteri sederhana dilakukan dengan memberikan zat warna bersifat asam, yaitu metilen blue pada kaca preparat yang telah difiksasi bakteri sampel. Umumnya zat warna bersifat asam khususnya metilen blue memiliki muatan negatif yang sangat membantu dalam mewarnai bakteri. Karena muatan negatif ini banyak terdapat pada permukaan sel bakteri, sehingga zat warna yang diberikan gampang melekat di permukaan sel bakteri. Dari hasil pengamatan di bawah mikroskop didapatkan hasil berupa penampakan bakteri berbentuk batang.
Pewarnaan gram dilakukan dengan memberi warna kristal violet pada kaca preparat yang telah difiksasi bakteri sampel. Kemudian kaca preparat dicuci dengan mengalirkan akuades, tujuannya adalah untuk menghilangkan sisa warna kristal violet yang tidak melekat pada bateri sampel. Kemudian diteteskan mordant atau reagen lugol (iodin). Penambahan lugol menyebabkan adanya ikatan CV dengan iodine yang akan meningkatkan afinitas pengikatan zat warna oleh bakteri. Pada gram positif dapat terbentuk CV iodinribonukleat pada dinding sel. Selanjutnya kaca preaparat dicuci dengan akuades kembali untuk menghilangkan pewarna berlebih. Tahap selanjutnya adalah pemberian larutan pemucat (alkohol 96%) setetes demi setetes hingga alkohol yang jatuh dari kaca preparat berwarna jernih. Tujuan dari pemberian larutan pemucat ini adalah untuk membentuk pori-pori pada gram negatif yang memiliki banyak lapisan lemak (lipid larut dalam etanol), sehingga komplek CV-iodine akan lepas dari permukaan sel gram negatif, sedangkan pada gram positif CV-iodine tetap menempel di dinding sel, sel gram negatif menjadi bening. Tahap selanjutnya adalah penambahan larutan safranin dengan prosedur yang sama dengan penambahan zat pewarnaan lainnya, namun penambahan ini tidak dilakukan karena keterbatasan bahan yang ada di laboratorium. Penambahan ini bertujuan untuk memberikan warna merah terhadap bakteri gram negatif dan berfungsi mengkontraskan warna. Tahapan selanjutnya adalah mencuci preparat dengan akuades dan dikeringkan dengan kertas tissu.
Fase yang paling kritis dari prosedur di atas adalah tahap dekolorisasi yang mengakibatkan CV-iodine lepas dari sel. Pemberian ethanol jangan sampai berlebih yang akan menyebabkan overdecolorization sehingga sel gram positif tampak seperti gram negatif. Namun juga jangan sampai terlalu sedikit dalam penetesan etanol (underdecolorization) yang tidak akan melarutkan CV-iodine secara sempurna sehingga sel gram negatif seperti gram positif.
Preparasi pewarnaan gram terbaik adalah menggunakan kultur muda yang tidak lebih lama dari 24 jam. Umur kultur akan berpengaruh pada kemampuan sel menyerap warna utama (CV), khususnya pada gram positif. Mungkin akan menampakkan gram variabel yaitu satu jenis sel, sebagian berwarna ungu dan sebagian merah karena pengaruh umur. Walaupun ada beberapa species yang memang bersifat gram variabel seperti pada genus Acinetobacter dan Arthrobacter.
Hasil dari pewarnaan gram ini adalah didapatkan bakteri gram positif dengan morfologi berbentuk batang, dan sifat – sifat lainnya yang sangat mirip dengan bakteri Bacillus anthracis.
VII.          KESIMPULAN
Sifat – sifat morfologi bakteri dapat dikenali dengan cara melihat bentuk koloni bakteri pada media tumbuh, melihat sel bakteri dengan pewarnaan sederhana dan pewarnaan gram yang kemudian diamati dengan mikroskop.


DAFTAR PUSTAKA
Anonymous, 2008, Petunjuk Praktikum Mikrobiologi Dasar, Universitas Jendral Sudirman,           Purwokerto

Dwidjoseputro, D. 1994. Dasar-dasar Mikrobiologi. Djambatan. Jakarta.

Rahayu, Winiati Pudji, 2000, Aktivitas Antimikroba Bumbu Masakan Tradisional Hasil Olahan    Industri terhadap Bakteri Patogen dan Perusak, Buletin Teknologi dan Industri       Pangan, Vol. XI, No. 2, IPB.

Syamsuri., I.  2000.  Biologi 2000.  Erlangga.  Jakarta.

Sumarsih, Sri, 2003, Diktat Kuliah Mikrobiologi Dasar, Faperta UPN “Veteran” Yogyakarta.

No comments: