radio muadz 94,3 fm kendari

radio muadz 94,3 fm kendari
radio muadz 94,3 fm kendari

February 02, 2011

Limbah Laboratorium dan penanganannya

LIMBAH LABORATORIUM
A.      Latar Belakang
Dalam Undang-Undang RI Nomor 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan, pada pasal 1 butir 1 disebutkan bahwa yang dimaksud dengan kesehatan adalah keadaan yang sejahtera dari badan, jiwa dan sosial yang memungkinkan setiap orang hidup produktif secara sosial dan ekonomis.
Adapun derajat kesehatan masyarakat dipengaruhi oleh 4 faktor, yaitu :
-       Faktor Lingkungan
-       Faktor Perilaku
-       Faktor Pelayanan Kesehatan
-       Faktor Bawaan (Keturunan)
Dari keempat faktor tersebut, faktor lingkungan merupakan faktor yang paling besar pengaruhnya dibandingkan dengan ketiga faktor yang lain. Pada umumnya, bila manusia dan lingkungannya berada dalam keadaan seimbang, maka keduanya berada dalam keadaan sehat. Tetapi karena sesuatu sebab sehingga keseimbangan ini tergangggu atau mungkin tidak dapat tercapai, maka dapat menimbulkan dampak yang merugikan bagi kesehatan.
Keseimbangan tersebut sangat kompleks. Dari lingkungan alaminya manusia mengambil makanan dan sumber daya lain yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan materinya, ke lingkungan alami pula manusia membuang berbagai bahan buangan baik dari badannya maupun dari proses produksinya. Proses pengambilan maupun pembuangan ini bila tidak terkendali, menimbulkan dampak terhadap lingkungan yang dapat merugikan bagi kehidupan manusia itu sendiri, antara lain gangguan kesehatan, gangguan kenyamanan, gangguan ekonomi dan sosial. Dalam hal tersebut diatas yang perlu kita cermati adalah bahwa alam mempunyai daya dukung dan daya tampung yang terbatas. Bila pengelolaannya tidak seimbang maka kelestarian lingkungan juga akan terganggu. Perilaku manusia yang tidak sehat, akan memperburuk kondisi lingkungan dengan timbulnya “man made breeding places” bagi kuman dan vektor penyakit  maupun sumber pencemar yang dapat memajani manusia.
Seiring bergantinya jaman, manusia selalu membuat perubahan terhadap lingkungan mereka, baik di segi postif maupun di sisi negatifnya. Tidak terlepas dari itu, semua kebutuhan akan bahan pangan, tekstil, gaya hidup, teknologi dan “standar kenyamanan hidup” kian meningkat. Hal ini menyebabkan manusia menggunakan rasa ingin tahu mereka untuk terus menggali anugrah yang ada di alam ini.
Selaras dengan hal di atas, maka dilakukannya berbagai macam percobaan, berbagai macam penelitian dan berbagai macam eksperimen yang bertujuan tidak lain adalah untuk mencapai “standar kenyamanan hidup” manusia. Percobaan demi percobaan dilakukan, tidak jarang menimbulkan kerugian yang cukup besar namun kebanyakan didapatkan hasil yang sangat bermanfaat bagi manusia dan lingkungannya. Sebagian besar percobaan/eksperimen ini dilakukan di dalam suatu ruangan dengan berbagai alat-alat modern, yang selanjutnya ruangan ini kita sebut sebagai laboratorium.
Laboratorium merupakan tempat kegiatan dan interaksi para ilmuwan untuk menemukan atau menyimpulkan sesuatu yang baru secara ilmiah (eng.unri.ac.id). Hampir di setiap instansi atau perusahaan yang berbau ilmiah dan industri memiliki laboratorium. Pada dasarnya laboratorium memiliki fungsi yang sama, namun seiring bercabangnya ilmu pengetahuan dan semakin banyaknya instansi yang mengelola laboratorium, fungsi dari laboratorium mengalami spesifikasi. Misalnya dalam dunia pendidikan (universitas), laboratorium diartikan sebagai unit penelitian dimana terjadi proses/kegiatan menghasilkan informasi-informasi baru tentang masalah tertentu dari sudut pandang ilmiah. Peran laboratorium sangat besar di dunia pendidikan, karena di laboratorium inilah dapat dihasilkan karya-karya ilmiah yang membanggakan, yang belum tentu dapat dihasilkan di instansi lain.
Saat ini aplikasi dari laboratorium sudah sangat banyak, ada laboratorium yang berfungsi untuk menganalisis kandungan unsur dalam sampel, ada yang berfungsi mengawasi peredaran makanan atau hasil produksi dari sebuah industri, hingga ada laboratorium yang bertugas untuk menjaga kelestarian alam dari limbah pembuangan yang dapat menyebabkan berbagai macam penyakit.
Jutaan jenis sumber penyakit setiap saat mengancam lingkungan kita, mulai dari yang tidak terlalu bahaya sampai yang memerlukan penanganan dokter, mulai dari yang tidak menular sampai yang bisa menjangkit satu kecamatan. Berbagai macam penyakit bisa saja datang dari berbagai sumber, sebagian besarnya adalah berasal dari limbah, baik limbah industri, limbah rumah tangga maupun limbah laboratorium. Penelitian dan pencarian solusi terus dilakukan untuk menyelesaikan masalah ini.
Tantangan ke depan adalah bagaimana mendaur ulang limbah yang ditakuti menghasilkan bahan yang dibutuhkan. Undang-Undang No. 23 tahun 1992 tentang Pokok-Pokok Kesehatan menyebutkan bahwa setiap warga negara Indonesia berhak memperoleh derajat kesehatan yang setinggi-tingginya. Oleh karena itu Pemerintah menyelenggarakan usaha-usaha pencegahan dan pemberantasan penyakit, pencegahan dan penanggulangan pencemaran, pemulihan kesehatan, penerangan dan pendidikan kesehatan pada rakyat dan lain sebagainya. Usaha peningkatan dan pemeliharaan kesehatan harus dilakukan secara terus menerus, sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan di bidang kesehatan. Sejalan dengan  itu, perlindungan terhadap bahaya pencemaran lingkungan juga perlu mendapat perhatian khusus dan diharapkan mengalami kemajuan.
Saat ini pertambahan penduduk dan industri berdampak terhadap penurunan kualitas perairan (danau dan sungai).  Hal ini terlihat jelas pada daerah yang mengalami perkembangan industri dan peningkatan urbanisasi yang sangat pesat. Besarnya komunitas dan kapaitasnya dalam menghasilkan limbah. Membuat keadaan lingkungan semakin buruk. Oleh karena itu diperlukan sistem pengolahan limbah yang murah dan efisien dalam mengatasi limbah. Karena pada saat ini, makin disadari bahwa kegiatan laboratorium yang sangat kompleks tidak saja memberikan dampak positif bagi masyarakat sekitarnya, tapi juga dampak negatif berupa cemaran akibat proses kegiatan maupun limbah yang dibuang tanpa pengelolaan yang benar.
B.      Pengertian Limbah Laboratorium
Limbah menurut Recycling and Waste Management Act (krW-/AbfG) didefinisikan sebagai benda bergerak yang diinginkan oleh pemiliknya untuk dibuang atau pembuangannya dengan cara yang sesuai, yang aman untuk kesejahteraan umum dan untuk melindungi lingkungan (http://kriemhild.uft.uni-bremen.de/)
Persoalan limbah sudah umum diperbincangkan banyak kalangan. Budaya masyarakat dalam mengelola limbah hingga kini belum banyak berubah. Bahkan dari kalangan dunia medis yang notabene identik dengan pola hidup bersih-nya ternyata masih kerepotan juga mengelola limbahnya.
Limbah merupakan hasil samping dari produksi yang pada umumnya menimbulkan dampak yang kurang baik terhadap manusia dan lingkungan. Limbah dapat dihasilkan oleh siapa saja, rumah tangga, rumah sakit, industry, dan laboratorium universitas.
Anggapan masyarakat saat ini ketika ditanyai mengenai limbah adalah mereka berlepas diri terhadapnya, dan mengatakan bahwa limbah (chemical) adalah pembawa bencana yang telah mengakibatkan global warming, banjir, pencemaran laut, dll. Namun mereka sendiri selalu kurang sadar akan tindakan mereka yang ikut berperan dalam pencemaran ini seperti membuang segala sesuatu yang tidak pada tempatnya.
Beberapa kalangan menganggap bahwa semua yang sudah tidak terpakai adalah sampah, dan setiap sampah adalah limbah. Namun kita tidak bisa menggolongkan semua limbah dalam satu kategori saja, melainkan harus dipilah-pilah berdasarkan fasanya, berdasarkan kedapat-daur-ulangnya, dan berdasarkan toksisitasnya.
Setiap instansi biasanya menghasilkan limbah yang berbeda pula, limbah rumah tangga biasanya berupa tinja dan sampah makanan, limbah industry berupa sisa bahan yang sudah tidak diolah, limbah rumah sakit berupa bekas alat-alat medis, dan limbah laboratorium (kimia) universitas berupa pelarut-pelarut dan bahan-bahan kimia bekas kegiatan praktikum mahasiswa.
Laboratorium tidak menghasilkan limbah yang banyak seperti industry, namun terkadang limbah laboratorium memiliki konsentrasi yang tinggi sehingga dapat digolongkan sebagai limbah B3. Limbah B3 sendiri adalah limbah berbahaya yang memiliki cirri seperti: mudah terbakar, korosif, reaktif, beracun dan dapat menyebabkan infeksi.
Oleh karena itu limbah laboratorium memerlukan perlakuan khusus sebelum dilepas ke alam bebas.
C.      Sumber-sumber Limbah Laboratorium
Adanya bahan kimia di universitas di mulai dari pemberian bahan yang diperlukan dari gudang bahan kimia kepada pekerja atau mahasiswa yang mengambil mata kuliah praktek di laboratorium. Bahan tersebut digunakan untuk sintesis maupun analisis. Karena tujuan penggunaannya maka terbentuk bahan awal, produk samping, pelarut yang digunakan dan bahan kimia yang terkontaminasi, dimana bahan ini harus diurai atau dibuang jika daur ulangnya tidak mungkin dilakukan. Berlawanan dengan limbah industri, limbah kimia dari laboraotrium di universitas yang terbentuk biasanya dalam jumlah kecil dari campuran yang sangat kompleks. Intinya, hal ini menyatakan jumlah limbah yang berarti, yang harus dibuang dari universitas dengan menggunakan dananya sendiri.
Untuk membuang limbah laboratorium, yang mungkin berbeda pada tempat yang berbeda pula, cara yang sesuai bergantung pada tipe percobaan yang dilakukan dan bahan kimia yang digunakan. Tetapi beberapa tipe limbah berbahaya yang dihasilkan tidak dapat dibuang dalam bentuk aslinya dan harus diolah terlebih dahulu. Dengan bantuan proses yang sesuai, limbah tersebut dapat dihilangkan sifat racunnya di tempat bahan tersebut dihasilkan. Keuntungan dari penghilangan sifat racun juga mengurangi resiko kontaminasi pada pekerja yang tidak berpengalaman dalam menanganinya bila terjadi kecelakaan dengan limbah ini, oleh karena itu hal ini juga untuk menghindari resiko terhadap kontaminasi lingkungan.
     Dalam skala laboratorium universitas limbah yang dihasilkan tidaklah sebanyak yang dihasilkan oleh industry, Pada hakekatnya, pengolahan limbah adalah upaya untuk memisahkan zat pencemaran dari cairan ataupun padatan. Walaupun volumenya kecil, konsentarsi zat pencemar yang telah dipisahkan itu sangat tinggi. Selama ini, zat pencemar yang sudah dipisahkan itu (konsentrat) ini belum tertangani dengan baik, sehingga terjadi akumulasi zat berbahaya yang setiap saat mengancam keselamatan lingkungan hidup.
Di negara-negara industri pun, konsentrat dari hasil samping pengolahan limbah industri juga menjadi masalah besar. Mahalnya biaya pengolahan mengakibatkan terjadinya skandal ekspor konsentrat (limbah B3) ke negara berkembang, seperti Rumania, Bulgaria, atau Amerika Latin dan ke Indonesia. Di negara-negara berkembang, konsentrat limbah B3 tersebut ditimbun begitu saja tanpa proses pengolahan. 
Pada sekitar tahun 1990, terjadi impor limbah B3 ke dalam wilayah Indonesia. Tujuan dari impor limbah dari negara-negara industri maju tersebut adalah untuk melakukan proses pengelolaan limbah B3 di Indonesia. Namun pada kenyataannya tidak ada proses pengelolaan terhadap limbah B3 tersebut, dan limbah B3 tersebut langsung di buang secara langsung ke pulau-pulau terpencil. Kenyataan ini menyebabkan ekosistem di sekitar pulau tersebut terganggu dan mengalami kerusakan yang hebat.
Hal tersebut seperti pada kasus impor limbah B3 lainnya terjadi pada tahun 1991 dimana sampah impor sebanyak 51 peti kemas (container) yang termasuk bahan berbahaya dan beracun (B3) diimpor dari Belanda berupa aki bekas. Importir limbah tersebut berargumen bahwa bahan timah yang akan diambil dari aki bekas tersebut di dalam negeri persediaannya sangat tidak mencukupi. Kemudian di tahun 2004 limbah dari Singapura yang dimasukkan atau diimpor oleh PT Asia Pasific Eco Lestari (PT APEL) ke Pulau Galang melalui pelabuhan di Batam. Izin Impor tersebut berhasil dan telah mendapatkan izin Bea dan Cukai karena dalam manifes atau list impor disebutkan sebagai pupuk tumbuhan untuk dijadikan sebagai media tanam. Semula komisaris dan direksi PT APEL bersikukuh menyebutkan limbah itu adalah media tanam yang akan digunakan untuk pertanian di Pulau Galang. Tetapi setelah diteliti kembali ternyata bahan tersebut termasuk limbah B3 (http://lawskripsi.com)
Proses industrialisasi di Indonesia sudah berlangsung 30 tahun. Di Jabotabek saja terdapat ribuan industri. Selama ini dikemanakan limbah B3 yang dihasilkan? Kalaupun memiliki pengolah limbah, jenis yang ada di industri-industri saat ini hanyalah jenis biasa, yang produk sampingnya justru menghasilkan konsentrat berupa limbah B3. 
Berdasarkan studi yang telah dilakukan oleh Bina Lingkungan Hidup DKI, ada sembilan kelompok besar penghasil limbah B3, delapan kelompok industri skala menengah dan besar, serta satu kelompok rumah sakit yang juga 
memiliki potensi menghasilkan limbah B3. 
1.  Industri Tekstil dan kulit 
Sumber utama limbah B3 pada industri tekstil adalah penggunaan zat warna. Beberapa zat warna dikenal mengandung Cr, seperti senyawa Na2Cr2O7 atau senyawa Na2Cr3O7. Industri batik menggunakan senyawa Naftol yang sangat berbahaya. Senyawa lain dalam kategori B3 adalah H2O2 yang sangat reaktif dan HClO yang bersifat toksik. 
Beberapa tahap proses pada industri kulit yang mneghasilkan limbah B3 antara lain washing, soaking, dehairing, lisneasplatting, bathing, pickling, dan degreasing. Tahap selanjutnya meliputi tanning, shaving, dan polishing. Proses tersebut menggunakan pewarna yang mengandung Cr dan H2SO4.
Hal inilah yang menjadi pertimbangan untuk memasukkan industry kulit dalam kategori penghasil limbah B3. 
2.  Pabrik kertas dan percetakan 
Sumber limbah padat berbahaya di pabrik kertas berasal dari proses pengambilan kembali (recovery) bahan kimia yang memerlukan stabilisasi sebelum ditimbun. Sumber limbah lainnya ada pada permesinan kertas, pada pembuangan (blow down) boiler dan proses pematangan kertas yang menghasilkan residu beracun. Setelah residu tersebut diolah, dihasilkan konsentrat lumpur beracun. 
Produk samping proses percetakan yang dianggap berbahaya dan beracun adalah dari limbah cair pencucian rol film, pembersihan mesin, dan pemrosesan film. Proses ini menghasilkan konsentrat lumpur sebesar 1-4 persen dari volume limbah cair yang diolah. Industri persurat kabaran yang memiliki tiras jutaan eksemplar ternyata memiliki potensi sebagai penghasil limbah B3. 
3.  Industri kimia besar 
Kelompok industri ini masuk dalam kategori penghasil limbah B3, yang antara lain meliputi pabrik pembuatan resin, pabrik pembuat bahan pengawet kayu,  pabrik cat, pabrik tinta, industri gas, pupuk, pestisida, pigmen, dan sabun. 
Limbah cair pabrik resin yang sudah diolah menghasilkan lumpur beracun sebesar 3-5 persen dari volume limbah cair yang diolah. Pembuatan cat menghasilkan beberapa lumpur cat beracun, baik air baku (water-base) maupun zat pelarut (solvent-base). Sedangkan industri tinta menghasilkan limbah terbesar dari dari pembersihan bejana-bejana produksi, baik cairan maupun lumpur pekat. Sementara, timbulnya limbah beracun dari industri pestisida bergantung pada jenis proses pada pabrik tersebut, yaitu apakah ia benar-benar membuat bahan atau hanya memformulasikan saja. 
4.  Industri farmasi 
Kelompok indusrti farmasi terbagi dalam dua sub-kelompok, yaitu sub-kelompok pembuat bahan dasar obat dan sub-kelompok formulasi dan pengepakan obat. Umumnya di Indonesia adalah sub-kelompok kedua yang tidak begitu membahayakan. Tapi, limbah industri farmasi yang memproduksi atibiotik memiliki tingkat bahaya cukup tinggi. Limbah industri farmasi umumnya berasal dari proses pencucian peralatan dan produk yang tidak terjual dan kadaluarsa. 
5.  Industri logam dasar 
Industri logam dasar nonbesi menghasilkan limbah padat dari pengecoran, percetakan, dan pelapisan, yang mengahasilkan limbah cair pekat beracun sebesar 3 persen dari volume limbah cair yang diolah. Industri logam untuk keperluan rumah tangga menghasilkan sedikit cairan pickling yang tidak dapat diolah di lokasi pabrik dan memerlukan pengolahan khusus. Selain itu juga terdapat cairan pembersih bahan dan peralatan, yang konsentratnya masuk kategori limbah B3. 
6.  Industri perakitan kendaraan bermotor 
Kelompok ini meliputi perakitan kendaraan bermotor seperti mesin, disel, dan pembuatan badan kendaraan (karoseri). Limbahnya lebih banyak bersifat padatan, tetapi dikategorikan sebagai non B3. Yang termasuk B3 berasal dari proses penyiapan logam (bondering) dan pengecatan yang mengandung logam berat seperti Zn dan Cr. 
7.  Industri baterai kering dan aki 
Limbah padat baterai kering yang dianggap bahaya berasal dari proses filtrasi. Sedangkan limbah cairnya berasal dari proses penyegelan. Industri aki menghasilkan limbah cair yang beracun, karena menggunakan H2SO4 sebagai cairan elektrolit. 
8.  Rumah sakit 
Rumah sakit menghasilkan dua jenis limbah padat maupun cair, bahkan juga limbah gas, bakteri, maupun virus. Limbah padatnya berupa sisa obat-obatan, bekas pembalut, bungkus obat, serta bungkus zat kimia. Sedangkan limbah cairnya berasal dari hasil cucian, sisa-sisa obat atau bahan kimia laboratorium dan lain-lain. Limbah padat atau cair rumah sakit mempunyai karateristik bisa mengakibatkan infeksi atau penularan penyakit. Sebagian 
juga beracun dan bersifat radioaktif. (Nur, http://nurjogja.wordpress.com)
Selama ini sangat sulit mengetahui secara persis, berapa jumlah limbah B3 yang dihasilkan suatu industri, karena pihak industri enggan melaporkan jumlah dan akrakter limbah yang sebenarnya. Padahal, kejujuran pihak industri untuk melaporkan secara rutin jumlah dan karakter limbahnya merupakan informasi berharga untuk menjaga keselamatan lingkungan bersama. 
Keengganan mereka berawal dari biaya pengolahan limbah yang terlampau mahal, sehingga yang terjadi adalah "kucing-kucingan" guna menghindari keharusan melakukan pengolahan. Untuk itu diperlukan kebijaksanaan yang tidak terlampau menekan industri, agar industri terangsang untuk mengolah limbahnya sendiri. (Harian Umum Kompas, 22 September 1994) 
D.      Dampak Limbah Laboratorium
Limbah laboratorium tidaklah banyak, hanya sekitar 1 liter tiap harinya, itupun dalam konsentrasi yang telah dinetralkan. Namun karena ada saja kemungkinan buruk yang ditimbulkan oleh limbah labratorium, maka pengolahan limbah laboratorium pun perlu mendapat perhatian.
E.      Pengolahan Limbah Laboratorium
Laboratorium yang baik adalah laboratorium yang tidak hanya memperhatikan masalah ketelitian analisa saja. Akan tetapi laboratorium yang baik juga harus memperhatikan masalah pembuangan limbah. Limbah yang dibuang sembarangan, jika masuk ke badan air tanah dan mengalir ke pemukiman penduduk akan menimbulkan bahaya. Terutama logam-logam berat. Jika tidak ditangani dengan baik dapat membahayakan makhluk hidup dan merusak lingkungan.
Pembuangan Limbah
Secara umum, metoda pembuangan limbah laboratorium terbagi atas empat metoda.
1.       Pembuangan langsung dari laboratorium. Metoda pembuangan langsung ini dapat diterapkan untuk bahan-bahan kimia yang dapat larut dalam air. Bahan-bahan kimia yang dapat larut dalam air dibuang langsung melalui bak pembuangan limbah laboratorium. Untuk bahan kimia sisa yang mengandung asam atau basa harus dilakukan penetralan, selanjutnya baru bisa dibuang. Untuk bahan kimia sisa yang mengandung logam-logam berat dan beracun seperti Pb, Hg, Cd, dan sebagainya, endapannya harus dipisahkan terlebih dahulu. Kemudian cairannya dinetralkan dan dibuang.
2.  Pembakaran Terbuka. Metoda pembakaran terbuka dapat diterapkan untuk bahan-bahan organik yang kadar racunnya rendah dan tidak terlalu berbahaya. Bahan-bahan organik tersebut dibakar ditempat yang aman dan jauh dari pemukiman penduduk.
3.  Pembakaran Dalam Insenerator. Metoda pembakaran dalam insenerator dapat diterapkan untuk bahan-bahan toksik yang jika dibakar ditempat terbuka akan menghasilkan senyawa-senyawa yang bersifat toksik.
4.  Penguburan. Dikubur didalam tanah dengan perlindungan tertentu agar tidak merembes ke badan air. Metoda ini dapat diterapkan untuk zat-zat padat yang reaktif dan beracun.
Penanganan dan Pemusnahan Bahan Kimia Tumpahan
Disamping metoda-metoda yang telah disebutkan diatas, terdapat beberapa jenis tumpahan bahan kimia sisa yang perlu mendapatkan perlakuan khusus sebelum dibuang keperairan. Bahkan diantaranya perlu dimusnahkan sebelum dibuang. Diantara bahan-bahan kimia tersebut antara lain ;
1. Tumpahan Asam-asam Anorganik
Tumpahan asam-asam anorganik seperti HCl, HF, HNO3, H3PO4, H2SO4 haruslah diperlakukan dengan penanganan khusus. Bahan tumpahan tersebut permukaannya ditutup dengan NaHCO3 atau campuran NaOH dan Ca(OH)2 dengan perbandingan1:1. Selanjutnya diencerkan dengan air supaya berbentuk bubur dan selanjutnya dibuang ke bak pembuangan air limbah.
2. Basa Akali dan Amonia
Tumpahan basa-basa alkali dan ammonia seperti amonia anhidrat, Ca(OH)2, dan NaOH dapat ditangani dengan mengencerkannya dengan air dan dinetralkan dengan HCl 6 M. Kemudian diserap dengan kain dan dibuang.
3. Bahan-Bahan Kimia Oksidator
Tumpahan bahan-bahan kimia oksidator (padat maupun cair) seperti amonium dikromat, amonium perklorat, asam perklorat, dan sejenisnya dicampur dengan reduktor (seperti garam  hypo, bisulfit, ferro sulfat) dan ditambahkan sedikit asam sulfat 3 M. selanjutnya campuran tersebut dinetralkan dan dibuang.
4. Bahan-Bahan Kimia Reduktor
Tumpahan bahan-bahan kimia reduktor ditutup atau dicampurkan dengan NaHCO3 (reaksi selesai) dan dipindahkan ke suatu wadah.. Selanjutnya kedalam campuran tersebut ditambahkan Ca(OCl)2 secara perlahan-lahan dan air (biarkan reaksi selesai). Setelah reaksi selesai campuran diencerkan dan dinetralkan sebelum dibuang ke perairan.
Untuk pemusnahan bahan reduktor (seperti Natrium bisulfit, NaNO2, SO, Na2SO2) dapat dipisahkan antara bentuk gas dan padat. Untuk gas (SO2), alirkan kedalam larutan NaOH atau larutan kalsium hipoklorit. Untuk padatan, campurkan dengan NaOH (1:1) dan ditambahkan air hingga terbentuk slurry. Slurry yang terbentuk ditambahkan kalsium hipoklorit dan air dan dibiarkan selama 2 jam. Selanjutnya dinetralkan dan dibuang ke perairan.
5. Sianida dan Nitril
Tumpahan sianida ditangani dengan menyerap tumpahan tersebut dengan kertas/tissu dan diuapkan dalam lemari asam, dibakar, atau dipindahkan kedalam wadah dan dibasakan dengan NaOH dan diaduk hingga terbentuk slurry. Kemudian ditambahkan ferro sulfat berlebih dan dibiarkan lebh kurang 1 jam dan dibuang keperairan.
Pemusnahan sianda dapat dilakukan dengan cara menambahkan kedalamnya larutan asam dan kalsium hipoklorit berlebih dan dibiarkan 24 jam. Selanjutnya dibuang ke perairan.
Untuk tumpahan nitril, ditambahkan NaOH berlebih dan Ca(OCl)2. setelah satu jam dibuang keperairan. Cuci bekas wadah dengan larutan hipoklorit.
Pemusnahan nitril dilakukan dengan menambahkan kadalamnya NaOH dan alkohol. Setelah 1 jam uapkan alkohol dan ditambahkan larutan basa kalsium hipoklorit. Setelah 24 jam dapat dibuang ke perairan.
Disamping itu ada pula laboratorium yang memang memiliki tugas untuk mengatasi limbah-limbah yang dihasilkan oleh industri atau instansi lainnya, seperti berikut:
a.  Laboratorium analisa untuk parameter kimia dan fisika limbah cair, limbah padat dan gas
Laboratorium ini berfungsi untuk melaksanakan analisa parameter kimia seperti : COD, BOD, VFA, alkalinitas, aciditas, AOX, kadar air, kadar abu, ukuran partikel. Parameter fisika seperti: pH, TSS, MLSS, MLVSS, konduktivitas, turbiditas dan warna. Logam-logam seperti: Fe, Az, Cu, Cd, al, Pb. Peralatan yang dimiliki adalah: semua peralatan gelas dan oven untuk analisa parameter kimia dan fisika pada limbah cair, limbah padat dan gas. Selain itu laboratorium juga dilengkapi dengan AAS analyzer, pH meter, conductivity meter dan turbidity meter, TCLP.
b.  Laboratorium Pengolahan Limbah
Laboratorium ini digunakan untuk kegiatan penelitian proses pengolahan limbah cair, limbah padat dan gas Proses pengolahan limbah cair terdiri dari :
-
Proses pengolahan limbah cair dengan sistim kimia dan fisika, anaerob dan aerob
-
Proses pengolahan limbah padat dengan sistim pemekatan dan pengeringan lumpur yang menggunakan screw press dan belt press. Teknologi pemanfaatan produk samping dan limbah padat seperti pith, lindi hitam, fly ash, sludge untuk menjadi bahan bangunan, pengerasan jalan, pupuk kompos, media tumbuh cacing dan jamur
-
Proses pengolahan limbah gas/emisi seperti penurunan kadar partikel dan emisi gas industri Peralatan yag dimiliki adalah semua peralatan gelas, oven dan dilengkapi dengan reaktor anaerob, reaktor aerob, jar tes rumah kaca, belt press, screw press
c.  Laboratorium Mikrobiologi
Laboratorium ini berfungsi untuk melaksanakan analisa:
-          Mikrobiologi tanah
-          Mikrobiologi air 
Laboratorium ini digunakan untuk mengidentifikasi mikroorganisme yang ada didalam tanah seperti ammonifikasi, nitrifikasi, denitrifikasi dan fiksasi nitrogen. Kemudian dapat juga menguji jumlah mikroorganisme coli yang berada didalam air. Laboratorium ini dilengkapi dengan peralatan mikroskop, inkubator dan shaker.
d.  Laboratorium Toksikology
Laboratorium ini berfungsi untuk melaksanakan uji toksisitas pada limbah padat dan limbah cair. Pada limbah padat dilakukan uji toksisitas akut dan uji toksisitas kronis dan sub kronis dengan menggunakan tikus putih sebagai indikatornya. Pada limbah cair dilakukan uji LD50 dengan menggunakan dafnia, ikan sebagai indikatornya.
Laboratorium ini akan segera dilengkapi dengan peralatan untuk pendukung laboratorium toksikology.  Jasa yang dapat diberikan (bidang lingkungan) antara lain:
1.  Penelitian dan pengembangan proses pengolahan air limbah dengan proses anaerobik beban tinggi melalui konfigurasi reaktor UASB. Proses pengolahan air limbah dengan proses aerobik, lumpur aktif sampai proses aerobik beban tinggi dengan reaktor moving Bed Biofilm. Proses pengolahan air limbah dengan proses fisika-kimia.
2.  Penelitian dan pengembangan proses pengolahan limbah padat seperti proses pemekatan dan pengeringan lumpur dengan sistem belt press dan screw press. Proses insinerasi limbah padat. Proses pembuangan limbah B3 secara lardfill dan pemanfatan limbah padat untuk bahan bangunan, pengerasan jalan, kompos tanaman, media tumbuh cacing dan budidaya jamur.
3.  Penelitian dan pengembangan proses pengolahan limbah gas seperti : proses penurunan kadar partikel dan emisi gas secara efektif dan efisien. Penggunaan peralatan penurunan kadar polutan emisi gas infustri menggunakan scrubber dan cyclone.
4.  Melayani analisa untuk identifikasi bakteri didalam tanah dan jumlah bakteri coli yang berada didalam air.
5.  Melayani uji toksisitas akut, subkronis, kronis pada limbah padat dengan menggunakan tikus putih.
Pengumpulan Limbah Laboratorium
Limbah laboratorium harus dikumpulkan dalam wadah yang terpisah sesuai dengan jenis bahan kimianya untuk dibuang. Kaleng kontainer sebagai contoh, diberi label sesuai dengan daftar yang dijelaskan dibawah ini dan diberi label dengan huruf A-J. Dalam menjalankannya, harus dipastikan bahwa bahan kimia yang dikumpulkan dalam satu kategori tidak bereaksi satu sama lain. Minimal periksa kandungan asam dan basanya. Banyak pembuangan dari suatu perusahaan yang membutuhkan dalam keadaan netral.
A
Pelarut organik bebas halogen dan bahan organik dalam larutan.
B
Pelarut organik yang mengandung halogen dan bahan organik dalam larutan.
Peringatan: Jangan gunakan kontainer aluminium!
C
Residu padat bahan kimia organik laboratorium.
D
Garam dalam larutan; isi dalam wadah harus diatur pada pH 6-8.
E
Residu toksik anorganik dan garam logam berat serta larutan.
F
Senyawa beracun yang mudah menyala.
G
Residu Mercury dan garam mercury anorganik.
H
Residu garam logam, masing-masing logam harus dikumpulkan secara terpisah.
I
Anorganik padat.
J
Pisahkan kumpulan kaca, logam, dan limbah plastik.
Kumpulan wadah harus diberi label dan simbol bahaya serta frase keselamatan dengan jelas. Mohon catat bahwa double labelling mungkin diperlukan, misalnya jika cairan mudah menyala dalam bentuk larutan aqueous dikumpulkan dalam kategori D, jika larutan organik yang bereaksi secara kausatik, mengandung basa dan asam atau beracun dikumpulkan dalam kontainer selain dari E dan F.
Label khusus dan simbol status bahaya terdapat di dalam nomor katalog "Peralatan laboratorium, aksesoris, dan keamanan produk".
Tentunya, kategori lain mungkin di desain jika:
·         Hal ini sangat berarti
·         Tersedia ruangan yang cukup
·         Total volume penyimpanan yang diijinkan tidak boleh berlebihan.
Oleh karena itu, direkomendasikan bahwa bahan-bahan yang berbahaya bagi kesehatan seperti bahan-bahan pengiritasi dan bahan-bahan beracun dikumpulkan bersama; dengan dua wadah - satu wadah untuk bahan-bahan yang berbahaya bagi kesehatan dan wadah yang lain untuk bahan-bahan beracun - mungkin digunakan.
Bahan-bahan kimia dalam wadah tertutup:
Kumpulkan: Pindahkan dan rawat hanya di dalam wadah khusus. Gunakan prinsip resiko keselamatan pribadi minimal!
Bahan kimia dalam jumlah lebih sedikit:
Rawat: dengan sifat mudah terbakar, mengoksidasi, atau reaktif terhadap air atau zat-zat lain. Untuk mencegah reaksi yang sulit dikendalikan, direkomendasikan untuk membungkus limbah kimia secara terpisah (plastik atau wadah) sebelum menempatkan mereka ke dalam bejana! Perhatian khusus harus diambil dengan menggunakan bahan peledak, yang mana harus dibuang secara terpisah dalam bentuk padat.
Wadah untuk pelarut organik:
Agar dapat membuang limbah laboratorium dengan baik dan untuk meminimalkan efek rutin laboratorium, kumpulan wadah di desain untuk limbah bahan-bahan:
·         Mampu menguasai bahan kimia yang terlibat
·         Tidak mudah pecah
·         Tahan bocor dan kebocoran gas
·         Kepemilikan sertifikat PBB untuk pengangkutan apabila barang tersebut diangkut melalui jalan umum.
Sebagai tambahan, poin dibawah ini harus diperhitungkan:
·         Kontainer harus diletakan pada tempat yang berventilasi baik
·         Kontainer harus ditutup rapat untuk mencegah evaporasi uap berbahaya
·         Pilih wadah yang dapat mencegah limbah yang disimpan pada tempat penyimpanan dalam jangka waktu yang sangat lama. Hal ini juga meminimalisasi resiko kebocoran.
Pemilihan UN-approved containers didaftar pada katalog berdasarkan "Peralatan laboratorium, aksesoris, dan keselamatan produk."
Berdasarkan percobaan di laboratorium, wadah-wadah dibawah ini dapat direkomendasikan:
·         Kontainer untuk limbah organik cair, limbah aqueous dan limbah terkontaminasi, asam dan basa:
Combi-container, 10 l dengan PE inliner, Ord. No. 9.43442.1013 atau PE container, Ord. No. 9.54528.1010.
·         Kontainer untuk limbah kimia solid/padat:
Sebisa mungkin limbah dikumpulkan dalam wadah yang terbuat dari bahan yang sama - kaca, logam, plastik - sebagai kontainer produk.
F.      Pemanfaatan Limbah Laboratorium
Penggunaan kembali limbah laboratorium dapat dilakukan, misalnya: untuk bahan kimia yang telah digunakan setelah melalui prosedur daur ulang yang sesuai. Sebagai contoh, hal ini paling sesuai untuk pelarut yang telah digunakan. Pelarut organik seperti etanol, aseton, kloroform dan dietil eter dikumpulkan di dalam laboratorium secara terpisah dan diperlakukan dengan distilasi.
Metode pengumpulan terpisah memungkinkan untuk melakukan suatu daur ulang yang menguntungkan, dimana kualitas solven daur ulang yang diperoleh sering merupakan produk murni. Khususnya untuk laboratorium pendidikan di universitas untuk kimia berkelanjutan (sustainable chemistry), daur ulang dan penggunaan kembali solven yang digunakan seharusnya tidak hanya dilakukan untuk tujuan komersial dan lingkungan, tetapi juga untuk tujuan didaktik. Pengalaman yang diperoleh dari studi awal kimia dalam daur ulang dan pembuangan limbah dalam skala laboratorium mengakibatkan lulusan kimia nantinya dapat menerapkan prinsip ’green chemistry’ pada kehidupan professional di level produksi.
Daur ulang dan penggunaan kembali solven yang digunakan di laboratorium riset dan pendidikan biasanya memungkinkan dan dapat diterima. Solven yang digunakan membuat fraksi utama limbah di laboratorium kimia untuk riset dan pendidikan. Karena pengumpulan terpisah limbah berbahaya diatur oleh Peraturan tentang Bahan Berbahaya (the Ordinance on Hazardous Substances, GefStoffV) maka solven-solven yang terkumpul dapat dengan mudah didaur ulang secara decentral di level institusi. Dengan ini, laboratorium kimia dapat didesain dalam suatu cara yang berkesinambungan. Integrasi daur ulang solven dalam laboratorium kimia. Partisipasi mahasiswa pada langkah pemurnian yang berbeda bermanfaat supaya peka untuk daur ulang yang aman dan dapat diterima lingkungan. Mahasiswa dapat mempelajari pengumpulan terpisah dan pemanfaatan kembali solven. Berbagai usaha telah dibuat untuk pekerja, teknik dan energi untuk tahap daur ulang yang berbeda. Tujuannya adalah untuk menyelesaikan masalah penerimaan bahan daur ulang dalam praktek. (http://www.oc-praktikum.de/)
G.      Masalah dalam Pengolahan Limbah Laboratorium
Ir Kardono, M.Eng, PhD, Direktur Pusat Pengkajian dan Penerapan Teknologi Lingkungan BPPT mengungkapkan kalangan laboratorium (rumah sakit) biasanya tidak terbiasa memisahkan sampah-sampah tersebut. “Mereka sering tidak lengkap menjalankan manajemen pengelolaan limbah. Bahkan tempat sampah hanya disimpan dalam satu tempat. Ini permasalahan budaya. Jika sampah tersebut bisa dipisahkan, maka akan murah pembiayaannya. Meski barang bahaya, namun jumlahnya sedikit maka pembiayaanya tidak akan mahal,'' ujarnya.
Untuk limbah infektius, kata Kardono, harus melaksanakan pengelolaan limbah dengan hati-hati. ''Metodenya, melalui disinfektan untuk mematikan kuman penyakit. Teknologinya bisa menggunakan uap panas, atau autoklap, atau microvave. Atau kembalikan pada supliernya,'' ujarnya. Hal lain, Kardono juga menyoroti masalah insinerator yang digunakan di sebagian besar laboratorium besar dan rumah sakit. ''Insinerator yang dipasang di masing-masing rumah sakit, lebih banyak memindahkan polusi cair menjadi polusi udara. Jadi, terbakar tidak sempurna,'' ujarnya.
Menurut Kardono, ada sejumlah syarat yang harus dipenuhi dalam pengoperasian insinerator, yaitu suhu pembakaran minimal 1200 derajat celcius. ''Jika dibawah suhu tersebut tidak boleh, karena lebih aman dimasukkan di tungku semen yang biasanya dimiliki pabrik semen, namun harus izin terlebih dulu dari Kementerian Negara Lingkungan Hidup,'' ujarnya. Syarat lain, pembakarannya maksimal 2 detik harus sudah menjadi abu. Juga tidak boleh menghasilkan zat seperti dioksin, serta harus memiliki performance test untuk dapat izin.
Selain itu, lanjut dia, desain insinerator harus dilengkapi gas cleaning system setelah pembakaran (scrubber atau filter). Gunanya, untuk menangkap bubuk yang berterbangan setelah proses pembakaran. Sedangkan, limbah cair sisa pembakaran harus masuk waste water treatment. Untuk insinerator di laboratoriuum yang kecil sering ditemukan operasi suhu yang kurang baik. ''Contohnya, sekali dibakar akan balik lagi. Seharusnya kontinyu secara terus menerus. Biasanya dari sisi teknologi insinerator sudah baku, hanya mungkin fabrikasinya. Contohnya jenis material yang dipilih akan menentukan tingkat suhu pembakaran,'' ujarnya.
Demikian pula syarat yang harus dilakukan dalam pengoperasian IPAL. Beberapa tahap proses yang dilaksanakan, yaitu pengendapan, kemudian biological proccess untuk menetralkan sekaligus menghilangkan toksit. ''Jika ingin dialirkan ke sungai harus dilihat, klas A, B atau C, karena kadang-kadang air sungai juga digunakan untuk air minum. Selain itu, jika lebih banyak mengandung metal, maka harus dipisahkan,'' ujarnya.
Namun masalahnya, kata Kardono, sebagian laboratorium industri dan rumah sakit sering tidak konsisten mengoperasikan tahapan tersebut. ''Loading rate tidak konsisten, kadang satu hari penuh, kadang kurang. Sehingga sistem biologicalnya bisa kolaps. Selain itu, desainnya juga berbeda-beda. Contohnya ada tiga tipe kandungan limbah, tapi hanya didesain dua penyaringan, sehingga bisa terlewatkan atau salah antisipasi,'' paparnya.
Selain itu, setiap laboratorium atau instansi yang aktif menghasilkan limbah juga seharusnya melengkapi sistem pengelolaan limbah dengan landfill, yaitu tempat pembuangan akhir limbah. “Jika, tidak ada lantas sisa abu B3 dibuang dimana,” tegas Kardono.
Landfill berbentuk tanah yang digali model trapesium dengan kedalaman 10 meter dan sisinya diberi lapisan kedap air. Jika limbah dimasukkan, setelah dua atau tiga meter diberi kembali lapisan yang mampu menahan tumpukan limbah. Demikian terus dilakukan secara berlapis-lapis. Landfill juga dilengkapi pipa-pipa untuk menyalurkan gas. ''Saya tidak melihat industri dan rumah sakit yang memiliki landfill sendiri. Biasanya diberikan ke pihak ketiga,'' ungkap Kardono.
Keluhan kalangan industri kecil dan rumah sakit mengenai pengelolaan limbah yang cukup mahal, ditanggapi Kardono dengan bijak. ''Memang hal itu mahal, dan harus masuk capital cost bukan operasional cost. Jadi bukan barang tambahan. Seperti membuat rumah, masa tidak ada WC-nya. Karena rumah sakit punya duit, maka dia harus menetapkan persyaratan pada perusahaannya,'' ujarnya.
Namun, juga diusulkan cara lain. ''Mungkin solusinya, kumpulan instansi negara atau kumpulan industri bekerja sama membuat fasilitas yang digunakan bersama sehingga bisa lebih murah. Tapi, jangan dibebankan pada pemerintah. Diibaratkan limbah suatu rumah, kok dibebankan pada tetangga. Jadi harus bertanggung jawab terhadap limbahnya sendiri,'' tegasnya.
Pemerintah akan memasukkan rumah sakit ke dalam unit usaha program penilaian peringkat kinerja perusahaan dalam pengelolaan lingkungan hidup (Proper). Dengan begitu setiap limbah baik itu cair, udara, maupun limbah bahan berbahaya dan beracun (B-3) yang dihasilkan setiap laboratorium industri dan rumah sakit akan diawasi secara ketat oleh Pemerintah.Keikutsertaan rumah sakit ke program Proper ini dimulai tahun depan.
Proper adalah program penilaian terhadap upaya penanggung jawab usaha atau kegiatan dalam mengendalikan pencemaran dan atau kerusakan lingkungan hidup. Masuknya rumah sakit menambah unit usaha yang mengikuti program Proper. Sampai saat ini, sebanyak 521 unit usaha telah menjalani program ini yang terbagi atas jenis usaha pertambangan minyak, gas bumi, manufaktur, dan jasa. Dalam tataran pelaksanaan di lapangan nanti pengawasan limbah rumah sakit dan hotel akan melibatkan instansi terkait seperti Departemen Kesehatan.
Perusahaan program Proper yang masuk kategori hitam (tidak taat)selain akan rusak nama baiknya di masyarakat juga tidak akan memperoleh fasilitas dari negara seperti kredit dari Bank Indonesia. Kementerian Negara Lingkungan Hidup (KLH), menargetkan pada tahun 2008 sebanyak 1000 perusahaan ikut Proper, sedangkan akhir 2009 diharapkan mencapai angka 3000. Setelah program ini berjalan selama 5 tahun, diperlukan evaluasi yang menyeluruh. (www.technologyindonesia.com)



DAFTAR PUSTAKA
Agung Suprihatin, S. Pd; Ir. Dwi Prihanto; Dr. Michel Gelbert. 1996. Pengelolaan Sampah. Malang : PPPGT / VEDC Malang

No comments: