radio muadz 94,3 fm kendari

radio muadz 94,3 fm kendari
radio muadz 94,3 fm kendari

February 02, 2011

KROMATOGRAFI KOLOM DAN LAPIS TIPIS : (PEMISAHAN DAN PEMURNIAN β-KAROTEN DARI EKSTRAK WORTEL)

KROMATOGRAFI KOLOM DAN LAPIS TIPIS :
(PEMISAHAN DAN PEMURNIAN β-KAROTEN DARI EKSTRAK WORTEL)

TUJUAN
Tujuan dari percobaan ini adalah :
Dapat melakukan teknik-teknik dasar kromatografi kolom dan lapis tipis pada proses isolasi dan pemurnian senyawa bahan alam.
Dapat menjelaskan perbedaan prinsip dasar kromatografi kolom dan lapis tipis.
LANDASAN TEORI

Wortel merupakan tanaman sayuran umbi yang kaya akan karoten yang merupakan prekursor vitamin A dan mengandung cukup besar tiamin dan riboflavin. Karotenoid merupakan kelompok pigmen yang berwarna kuning, oranye, merah oranye, serta larut dalam minyak (lipida) (Asgar et al., 2006).
β-karoten (salah satu kandungan wortel) dipandang dari struktur kimia mampu menangkap radikal bebas (radical scavenger) serta dikenal sebagai antioksidan (Hamilton dkk., 1997). Karoten dapat terdegradasi oleh panas, cahaya, dan oksigen. Karoten terdegradasi dengan cepat mulai pada temperature 60oC. Titik leleh β-karoten dan α-karoten berturut-turut adalah 183oC dan 187,5oC. Telah dilaporkan baru-baru ini bahwa B-karoten murni berwarna hitam, tapi karena bereaksi secara langsung dengan oksigen maka diasumsikan berwarna merah/orange (Gunstone, 2004). Menurut United State Department of Agriculture (2004), standar β-karoten yang terkandung dalam wortel kering adalah minimal 0,05107 g/100 g.
Karoten yang merupakan pigmen berwarna orange-kuning pertama kali diisolasi dan diberi nama oleh H. Wackenroder pada tahun 1831. Kemudian pada tahun 1911 M. Tswett, yang merupakan penemu kromatografi kolom, mengelompokkan itu sebagai “karotenoid”. Struktur utama dari Beta-karoten dinyatakan oleh P. Karrer pada tahun 1931, sehingga dia memperoleh penghargaan Nobel dalam bidang kimia pada tahun 1937. Beta karoten yang merupakan rantai poliena yang dapat mempunyai konfigurasi cis/trans dapat membentuk 272 isomer (Catherine, 2009).
Sumber utama β-Karoten yaitu wortel, namun jika dikonsumsi dalam jumlah besar akan dapat membahayakan karena mengandung substansi nitrosamid, nitrit dan falcarinol (Suwandi, 1991). Kandungan karotenoid dalam wortel dapat dilihat dari intensitas warnanya, yaitu semakin jingga warna wortel maka semakin banyak kandungan karotenoidnya. Karotenoid yang dikandung tidak hanya beta karoten tetapi juga alfa karoten, gamma karoten, zeta karoten, dan likopen yang dapat memberikan perlindungan pada tubuh terhadap pengaruh negatif dari radikal bebas (Soebagio et al., 2007).


ALAT DAN BAHAN
Alat yang digunakan dalam percobaan ini adalah :

Satu set alat refluks
Statif dan klem
elektromantel
Corong
Evaporator
Timbangan analitik
Gelas kimia
batang pengaduk
kolom
kayu penyodok
chamber
pipa kapiler
pipet tetes
lampu UV
pensil
penggaris

Bahan yang digunakan dalam percobaan ini adalah :
wortel segar
n-heksan
aseton
kloroform
kertas saring
kapas
akuades
serbuk silika gel
plat KLT

PROSEDUR KERJA






































Hasil Pengamatan
Rangkaian alat kromatografi kolom

Hasil KLT





PEMBAHASAN
Buah wortel (Daucus Carota L.) adalah buah yang memiliki banyak protein, mineral, karoten, vitamin dan antioksidan alami. Salah satu senyawa antioksidan alami yang terkandung di wortel adalah karotenoid. Karotenoid yang dikandung tidak hanya β-karoten tetapi juga α-karoten, gamma karoten, zeta karoten, dan likopen yang dapat memberikan perlindungan pada tubuh terhadap pengaruh negatif dari radikal bebas. Kandungan karotenoid dalam wortel dapat dilihat dari intensitas warnanya, yaitu semakin jingga warna wortel maka semakin banyak kandungan karotenoidnya. Dari sekian banyak zat yang terkandung di wortel, senyawa β-karoten adalah senyawa yang paling banyak memiliki manfaat bagi manusia. Selain aktivitasnya sebagai antioksidan, β-karoten juga sangat dibutuhkan oleh mata untuk memperbaiki sel-sel yang rusak di retina. Mengingat kegunaannya yang sangat besar, β-karoten telah banyak diisolasi dari tumbuhan-tumbuhan penghasilnya. Berikut adalah struktur senyawa β-karoten:

Pada percobaan kali ini ingin dipelajari teknik isolasi β-karoten dari wortel dengan menggunakan kromatografi kolom dan kromatografi lapis tipis. Untuk dapat masuk dalam kromatografi kolom, sayuran wortel harus diolah sedemikian rupa hingga menjadi cairan pekat tanpa pengotor. Pengolahan sampel wortel dimulai dengan mengupas dan memotong kecil-kecil wortel, kemudian sampel dikeringkan di dalam oven. Tujuan pengeringan adalah untuk menghilangkan kadar air yang terdapat pada sampel wortel. Sampel kemudian di refluks dengan pelarut non-polar. Senyawa β-karoten merupakan senyawa yang non-polar sehingga pelarut yang digunakan harus bersifat non-polar pula. Dalam percobaan kali ini pelarut yang digunakan untuk merefluks adalah pelarut kloroform teknis. Tujuan dari merefluks sampel adalah menarik senyawa-senyawa non-polar (termasuk β-karoten) yang terkandung di dalam wortel ke dalam pelarut kloroform. Ekstrak yang terbentuk kemudian dipisahkan dengan cara penyaringan.
Ekstrak wortel yang terbentuk kemudian dievaporasi dengan menggunakan evaporator. Tujuan dari evaporasi ini adalah untuk mempekatkan ekstrak dengan menguapkan pelarut. Ekstrak yang diperoleh ditambahkan dengan serbuk silica gel. Ekstrak akan teradsorpsi pada permukaan silica gel, silica gel berperan sebagai adsorben yang akan memudahkan pelarut n-heksan dalam mengelusi sampel.
Silika gel yang telah mengadsorpsi ekstrak sampel, kemudian dimasukkan ke dalam kolom yang telah dipacking oleh fasa diam silica gel dan fasa gerak larutan n-heksan. Sebelum silika gel yang telah mengadsorpsi ekstrak dimasukkan, kolom harus betul-betul compact dan tidak terdapat retakan pada fasa diam, karena sedikit retakan saja akan mengganggu proses pemisahan sampel. Kemudian dimasukkan larutan n-heksan dari atas silika gel yang mengadsorpsi ekstrak, larutan n-heksan di biarkan mengalir melewati fasa diam dan akan membentuk partisi-partisi larutan dengan warna jingga yang berbeda-beda, warna jingga yang berbeda-beda ini adalah senyawa kimia yang terkandung dalam wortel. Dari data yang diperoleh, terdapat empat partisi larutan dengan warna jingga yang berbeda-beda. Berdasarkan teori, partisi-partisi yang terbentuk ini adalah hasil pemisahan komponen-komponen penyusun wortel. Dalam empat partisi ini dimungkinkan terdapat senyawa β-karoten. Oleh karena itu perlu dilakukan uji kualitatif senyawa β-karoten dengan teknik kromatografi lapis tipis.
Kromatografi lapis tipis adalah suatu teknik pemisahan dengan sebuah plat yang dipisi silika gel sebagai fasa diam dan campuran pelarut sebagai fasa gerak. Tidak sama dengan sistem kerja kromatografi kolom yang menggunakan grafitasi sebagai gaya tarik eluen, pada kromatografi lapis tipis larutan akan merambat naik ke atas fasa diam akibat gaya kapilaritas yang disebabkan daya serap silika gel pada fasa diam.
Untuk menguji keberadaan senyawa β-karoten, keempat partisi ditotolkan di plat KLT, kemudian plat dimasukkan ke dalam chamber yang telah berisi campuran 8 : 2 larutan n-heksan – aseton. Larutan campuran akan naik hingga batas plat dan menimbulkan noda (spot) kromatogram. Dengan membagi jarak tempuh noda dan pelarut, maka akan didapatkan nilai Rf. Nilai Rf adalah nilai yang menunjukkan kemurnian suatu kromatogram. Untuk menentukan kemurnian suatu kromatogram dapat dilakukan dengan cara membandingkan nilai Rf kromatogram praktik dengan nilai Rf kromatogram teori. Adapun nilai Rf untuk partisi A dan partisi C adalah 0, karena tidak terdapat noda pada plat, nilai Rf untuk partisi B adalah 0,36 dan nilai Rf untuk partisi D adalah 0,25. Berdasarkan data percobaan lain, nilai Rf untuk senyawa β-karoten adalah 1, sehingga dari partisi yang diperoleh belum ada senyawa β-karoten yang diisolasi.
KESIMPULAN
Adapun kesimpulan yang dapat diperoleh dari percobaan ini adalah sebagai berikut:
Pemisahan komponen-komponen dalam sampel dengan menggunakan kromatografi kolom dilakukan dengan mengelusi sampel tersebut dalam suatu kolom dengan fasa diam berupa padatan seperti silika gel dan fasa gerak berupa campuran pelarut. Sedangkan pada KLT sampel ditotolkan pada pelat, lebih lanjut dikembangkan dalam sistem pelarut yang telah jenuh yang kemudian identitasnya dinyatakan dengan harga Rf.
Perbedaan prinsip dasar antara kromatografi kolom dan KLT yaitu kromatografi kolom menggunakan kolom sebagai media untuk proses elusi cuplikan yang akan dipisahkan dan gaya rambat yang digunakan adalah gaya grafitasi sedangkan KLT menggunakan pelat tipis berlapiskan silika gel, gaya rambat yang digunakan adalah gaya kapilaritas.

DAFTAR PUSTAKA


Asgar, A., Musaddad, D., 2006, Optimalisasu Cara, Suhu dan Lama Blansing sebelum Pengeringan pada Wortel, J. Hart, Vol. 16. No. 3.
Catherine, 2009, Pembuatan Garam Kalsium Karotenil Sulfat dan Pengaruh Sifat Pemantapnya terhadap Metil Ester Tidak Jenuh, Skripsi Departemen Kimia FMIPA UNS, Medan.
Hamilton, R.J., Kalu, C., Prisk, E., Padley, F.B., and Pierce, H., 1997, Chemistry of Free Radicals in Lipids, Food Chemistry, 60 (2).
Gunstone, F., 2004, The Chemistry of Oils and Fats Sources, Composition, Properties and Uses, Great Britain, MPG Books Ltd.
Soebagio, B., Rusdiana, T., Risnawati, R., 2007, Formulasi gel antioksidan dari ekstrak umbi wortel (daucus carota l.) Dengan menggunakan aqupec HV-505, Makalah pada Kongres Ilmiah XV ISFI, Jakarta.
Suwandi, U., 1991, Manfaat Beta-Karoten bagi Kesehatan, Cermin Dunia Kedokteran, No. 73. 
Tugas Setelah Praktikum

Cari dan jelaskan perbedaan kedua struktur likopen dan β-karoten dan pengaruhnya pada perbedaan fungsi dan kereaktifannya.
Jawaban :
Likopen adalah pigmen warna merah pada tomat yang merupakan senyawa C40-karotenoid, yang terdiri dari 8 unit isoprene. β-karoten adalah pigmen warna kuning dari wortel, merupakan bentuk isomer likopen dimana ikatan rangkap pada C1-C2 dan C1’-C2’ digantikan oleh ikatan yang memanjang dari C1 ke C6 dan C1’ ke C6’ membentuk cincin. Likopen memiliki aktifitas pencegah kanker prostat, sedangkan β-karoten tidak memiliki sifat ini.

Bagaimana mengetahui hasil isolasi senyawa dari nilai Rf ?
Jawaban :
Setiap senyawa memiliki nilai Rf yang berbeda, sehingga dapat diketahui jenis senyawa hanya dari Rf. Dan apabila Rf senyawa yang dihasilkan sama dengan Rf secara teori atau sama dengan Rf larutan pembanding, maka dapat dikatakan bahwa hasil isolasi dari senyawa adalah yang diinginkan.

3 comments:

izah said...

mau nanya itu uji kltny pke plat klt bysa y?? ga pke silica GF?? hruskah pke kromatografi kolom juga?? saya msih bngung mau uji KLT likopen dri tomat
maksih....

Faaza said...

pertamanya di pisahkan lewat kromatografi kolom, setelah terpisah beberapa fraksi kemudian di lihat nilai Rfnya dengan teknik KLT...

nanti Rf dari beberapa fraksi tsb di cocokin dengan Rf dari Beta carotennya...

Anonymous said...

eluen na pake perbandingan 9 : 1 bisa gak ? bagusan mana?