radio muadz 94,3 fm kendari

radio muadz 94,3 fm kendari
radio muadz 94,3 fm kendari

February 02, 2011

ISOLASI KURKUMIN DARI KUNYIT

ISOLASI KURKUMIN DARI KUNYIT


A.    Tujuan Percobaan
Tujuan dari percobaan ini adalah diharapkan dapat menjelaskan proses dan teknik pemisahan kurkumin dari kunyit secara kromatografi serta sifat-sifat.

B.     Landasan Teori
Kunyit merupakan salah satu tumbuhan yang banyak digunakan dalam masyarakat. Rimpang kunyit terutama digunakan untuk keperluan dapur (bumbu dan zat pewarna makanan), kosmetik hingga pengobatan tradisional. Kunyit (Curcuma sp) merupakan tanaman yang mudah diperbanyak dengan stek. Beberapa kandungan kimia dari rimpang kunyit yang telah diketahui yaitu minyak atsiri sebanyak 6 % yang terdiri dari golongan senyawa monoterpen dan sesquiterpen (meliputi zingiberen, alfa dan beta-turmerone), zat warna kuning yang disebut kurkuminoid sebanyak 5 % (meliputi kurkumin 50-60 %, monodesmetoksikurkumin dan bidesmetoksikurkumin), protein, fosfor, kalium, besi dan vitamin C (http://www.halalguide.info/).

Kurkumin (1,7-bis (4’- hidroksi- 3’-metoksifenil)-1,6-heptadiena-3,5-dion), merupakan senyawa hasil isolasi dari tanaman Curcuma sp dan telah berhasil dikembangkan sintesisnya oleh Pabon(1964). Kurkumin telah diketahui memiliki aktivitas biologis dengan spektrum yang luas. Aktivitas antioksidan telah dibuktikan berperan pada aktivitas antikanker dan anti-mutagenik kurkumin (Majeed et al., 1995).
Kurkumin di alam terdapat dalam dua bentuk tautomer, keto dan enol. Substituen pendorong dan penarik elektron berpengaruh pada stabilisasi tautomer keto-enol krkumin dan turunannya (Supardjan, 1999; Istiyastono et al., 2003). Gugus dengan sifat pendorong elektron cenderung menstabilkan tautomer keto, sedangkan gugus penarik elektron cenderung menstabilkan tautomer bentuk enol. Bentuk tautomer tersebut berpengaruh terhadap sebaran muatan parsial positif struktur kurkumin dan turunannya (lihat gambar 1). Semakin bertambah sebaran muatan parsial positif, menunjukkan aktivitas yang semakin meningkat. Stabilisasi struktur keto bertanggung jawab terhadap peningkatan aktivitas turunan kurkumin (Supardjan dan Muhammad Da’i, 2005).

Gambar 1. Struktur tautomer keto-enol dan sebaran muatan parsial positif kurkumin


C.    Alat dan Bahan
Alat yang digunakan pada percobaan ini adalah :

-          satu set alat refluks
-          kolom kromatografi
-          pipet ukur
-          erlenmeyer
-          gelas kimia
-          buret
-          pipet volume
-          timbangan analitik
-          corong
-          batang pengaduk
-          filler
-          statif dan klem
-          plat KLT
-          chamber
-          cutter
-          oven
-          alumunium foil

Bahan yang digunakan dalam percobaan ini adalah :
-          rimpang kunyit (Curcuma sp)
-          silika gel
-          1,2 dikloroetan
-          methanol
-          kloroform
-          kertas saring
-          kapas
-          CeSO4



D.    Prosedur Kerja
-          Preparasi Sampel
20 g rimpang kunyit + 50 ml diklorometan
-          direfluks selama 1 jam
-          disaring dengan saringan vakum
Lar. Kuning
Residu
-          dicampurkan 20 ml heksan
-          diaduk merata
-          disaring
Residu
Ekstrak
-          dicampur dengan silica gel
-          dipekatkan
Ekstrak kunyit pada silica gel
 



























-          Analisis Senyawa
0,3 g ekstrak kunyit
-          ditambahkan eluen (CH2Cl2 : methanol = 99 : 1)
-          diaduk merata
-          dimasukkan dalam kromatografi yang telah dibuat
-          dielusi sampai diperoleh ekstrak berwarna kuning

Ekstrak berwarna kuning
-          dipekatkan dengan dipanaskan
-          ditotolkan pada pelat KLT
-          dimasukkan kedalam chamber berisi eluen
-          dielusi
-          diamati noda dengan diberi serium sulfat dan dikeringkan dalam oven, kemudian dihitung Rf
 

















Rf        A1 = 0,13         A2 = 0,23            A3 = 0,33            A4 = 0,62
Rf        B1 = 0,15         B2 = 0,31            B3 = 0,56
Rf        C1 = 0,15         C2 = 0,31            C3 = 0,54
Rf        D1 = 0,15         D2 = 0,31           
Rf        E1 = 0,15


E.     Hasil Pengamatan
1.      Rangkaian alat kromatografi kolom
2.      Hasil KLT
A
B
C
D
E
F
G
H
I
J
A1
A2
A3
B1
B2
C1
C2
A4
B3
C3
D1
D2
E1


Jarak pelarut    = 3,9 cm
Jarak noda A1  = 0,5 cm          A2 = 0,9 cm       A3 = 1,3 cm       A4 = 2,4 cm
Jarak noda B1  = 0,6 cm          B2 = 1,2 cm       B3 = 2,2 cm
Jarak noda C1  = 0,6 cm          C2 = 1,2 cm       C3 = 2,1 cm
Jarak noda D1  = 0,6 cm          D2 = 1,2 cm      
Jarak noda E1  = 0,6 cm         
Jarak noda F – J  = tidak terdapat noda
Rf        A1 = 0,13         A2 = 0,23            A3 = 0,33            A4 = 0,62
Rf        B1 = 0,15         B2 = 0,31            B3 = 0,56
Rf        C1 = 0,15         C2 = 0,31            C3 = 0,54
Rf        D1 = 0,15         D2 = 0,31           
Rf        E1 = 0,15


F.     Pembahasan
Kunyit (Curcuma sp) merupakan salah satu tumbuhan memiliki banyak manfaat bagi masyarakat Indonesia, diantara manfaat kunyit adalah sebagai bahan dasar warna kuning dalam industri tekstil tradisional serta digunakan pula sebagai bumbu masakan, dan juga kunyit digunakan sebagai obat tradisional. Kunyit adalah jenis tumbuhan rimpang dengan warna kuning kemerah-merahan pada rimpangnya. Ternyata manfaat dan warnanya yang indah menarik perhatian para ilmuan untuk mencari tahu apa saja kandungannya.
Sejauh ini senyawa yang paling banyak diisolasi dari kunyit adalah kurkumin (1,7-bis (4’- hidroksi- 3’-metoksifenil)-1,6-heptadiena-3,5-dion). Kurkumin sangat bermanfaat bagi kesehatan tubuh disamping untuk menambah nafsu makan, kurkumin juga merupakan suatu senyawa anti bakteri yang juga dapat dimanfaatkan sebagai perangsang dinding kantong empedu untuk berkontraksi mengeluarkan empedu, sehingga pencernaan akan lebih sempurna. Kurkumin dikabarkan memiliki kemampuan sebagai anti tumor dan antioksidan. Dengan melihat betapa banyaknya manfaat kurkumin bagi tubuh manusia, adalah sangat potensial bagi ilmuwan kimia untuk mengetahui bagaimana cara mengisolasi zat kurkumin. Sehingga kimiawan terbekali kemampuan untuk bekerja di industri farmasi atau industri makanan lainnya.
Kurkumin adalah senyawa polifenol aktif dengan rumus molekul C21H20O6. Kurkumin memiliki 2 bentuk tautomer yaitu keto dan enol. Gugus dengan sifat pendorong elektron cenderung menstabilkan tautomer keto, sedangkan gugus penarik elektron cenderung menstabilkan tautomer bentuk enol.

Bentuk tautomer tersebut berakibat pada aktivitas kurkumin, aktivitas kurkumin dipengaruhi oleh banyaknya sebaran muatan parsial positif pada bentuk tautomer, dimana pada struktur keto muatan parsial positif lebih banyak daripada pada bentuk enolnya, sehingga tautomer kurkumin dalam bentuk keto jarang ditemui dalam suatu isolasi. Berdasarkan teori aktivitas yang tinggi akan menurunkan stabilitas suatu senyawa, stabilitas yang rendah akan mengakibatkan jarang didapatkan senyawa tersebut dalam kondisi yang normal.
Isolasi kurkumin dari rimpang kunyit pada percobaan ini dilakukan dengan metode kromatografi kolom dan kromatografi lapis tipis. Metode kromatografi kolom bertujuan untuk memisahkan kurkumin murni beserta eluennya dan KLT bertujuan untuk mengidentifikasi keberadaan kurkumin dalam fraksi.
Mekanisme kerja dari kromatografi kolom adalah pemisahan suatu senyawa dalam kolom kromatografi dengan silika gel sebagai fasa diam dan campuran pelarut polar-nonpolar sebagai fasa gerak yang akan mengelusi sampel, eluen bergerak turun dan mengelusi sampel digerakkan oleh gaya grafitasi bumi. Eluen yang digunakan dalam percobaan ini adalah campuran 1,2-dikloroetan-metanol dengan perbandingan 99:1. Metanol bersifat polar dan 1,2-dikloroetan bersifat non polar. Eluen akan mengelusi sampel kunyit dan membawa senyawa bersamanya menuju wadah eluat (keluar dari kolom), fasa diam (silika gel) memiliki daya adsorbsi yang cukup besar, sehingga ketika eluen yang membawa sampel melewati fasa diam akan terbentuk fraksi-fraksi warna yang berbeda. Fraksi warna yang berbeda ini menunjukkan perbedaan senyawa atau zat aktif yang dipisahkan dari setiap fraksi. Semakin pekat warna fraksi, maka semakin banyak senyawa atau zat aktif yang terpisahkan dalam fraksi tersebut. Dalam percobaan ini diperoleh 10 fraksi yang berbeda.
Pada dasarnya kurkumin banyak terdapat pada kunyit, sehingga dapat dipastikan dari setiap fraksi yang diperoleh memiliki kandungan kurkumin. Untuk menguji keberadaan kurkumin maka dilakukan metode pemisahan dengan kromatografi lapis tipis. Eluen yang digunakan untuk mengelusi sampel pada KLT ini sama dengan eluen yang digunakan dalam kromatografi kolom, yaitu campuran 1,2-dikloroetan-metanol dengan perbandingan 99:1. Eluen yang digunakan haruslah jenuh agar dapat memisahkan sampel dengan baik, eluen akan mengelusi sampel pada plat KLT ke arah atas akibat gaya kapilaritas silika gel. Dari hasil pembacaan noda pada plat KLT yang telah dibasahi oleh CeSO4 dan dikeringkan dalam oven, diketahui terdapat 13 noda yang terbentuk (lihat data pengamatan). Dengan membandingkan jarak noda dan jarak pelarut maka akan didapatkan nilai Rf dari masing-masing noda tersebut.
Nilai Rf yang sama ditunjukkan pada noda A1, B1, C1, D­1 dan E1 dengan Rf = 0,15 serta pada noda A3, B2, C2 dan D­2 dengan Rf = 0,31. Dengan membandingkan data Rf teori dan Rf sampel, maka dapat dipastikan terdapat senyawa kurkumin dalam sampel.
G.    Kesimpulan
Dari percobaan yang dilakukan, dapat disimpulkan bahwa untuk mengetahui kandungan yang terdapat dalam suatu sampel dapat dilakukan pemisahan dengan kromatografi kolom yang dilanjutkan dengan kromatografi lapis tipis untuk memperoleh suatu pemisahan senyawa yang murni dengan sistem like disolves like. Keberadaan kurkumin dapat dilihat pada noda di fraksi A3, B2, C2 dan D­2 dengan Rf = 0,31.


DAFTAR PUSTAKA
Istiyasono, E.P., Supardjan, A.M., dan Pramono, H.D., 2003, Tautomeri Keto-Enol           Kurkumin dan Beberapa Turunan Kurkumin Tersubstitusi pada C-4, Suatu     Kajian Pendekatan Kimia Komputasi, Majalah Farmasi Indonesia 14(3):107-   133.

Majeed, M., Badmaev, V., Shirakumar U., and Rajendran R., 1995, Curcuminoids            antioxidant phytonutrients, 3-80, Nutrience Publisher Inc., PisCataway, New     Jersey.

Pabon, H.J.J., 1964, ‘A Synthesis of Curcumin and related Compounds’, Recl. Trav.         Chem., 23: 379-386.

Supardjan, A.M., 1999, Synthesis and Anti-Inflammatory Activity of Some 4-       Substitued Curcumin Derivatives, Disertastion, Gadjah Mada Univesrity.

Supardjan, A.M. dan Muhammad Da’I, 2005, Hubungan Struktur dan Aktivitas    Sitotoksik Turunan Kurkumin terhadap Sel Myeloma, Majalah Farmasi        Indonesia 16(2):100-104.


Tugas Setelah Praktikum
1.      Mengapa analisis komponen-komponen senyawa yang menggunakan KLT atau kromatografi kolom perbandingan campuran pelarutnya divariasikan, jelaskan secara singkat dan jelas !
Jawaban :
Sebab dengan memvariasikan campuran pelarutnya, pemisahan dapat terjadi secara maksimal, sekaligus untuk meningkatkan kemurnian pemisahan tersebut.
2.      Bagaimana tingkat kemurnian kurkumin hasil pemisahan secara kromatografi kolom ?
Jawaban :
Masih rendah dan kurang murni, sebab pemisahan berdasarkan gaya grafitasi sehingga senyawa kemungkinan antara komponen lapisan yang satu dengan yang lain untuk saling campur dan eluen terikat dalam kurkumin yang akan dipisahkan dapat saja terjadi jika tidak dilakukan dengan sangat teliti dan hati-hati.

1 comment:

Anonymous said...

tolong perbaki lagi tulisan blog nya khususnya di prosedur kerja. thx infonya semoga bisa menjadi blog yang berkembang...^v^