radio muadz 94,3 fm kendari

radio muadz 94,3 fm kendari
radio muadz 94,3 fm kendari

February 02, 2011

ekstraksi dan pemisahan lipid kompleks

BAB I
PENDAHULUAN
A.  Latar Belakang
Salah satu kelompok senyawa organik yang terdapat dalam tumbuhan, hewan atau manusia dan yang sangat berguna bagi kehidupan manusia adalah lipid. Untuk memberikan definisi yang jelas tentang lipid sangat sukar, sebab senyawa yang termasuk lipid tidak mempunyai rumus struktur yang serupa atau mirip. Sifat kimia dan fungsi biologinya juga berbeda-beda. Walaupun demikian, para ahli biokimia bersepakat bahwa lemak dan senyawa organik yang mempunyai sifat fisika seperti lemak, dimasukkan dalam satu kelompok yang disebut lipid. Adapun sifat kimia yang dimaksud ialah: (1) tidak larut dalam air, tetapi larut dalam satu atau lebih dari satu pelarut organik misalnya, eter, aseton, kloroform, benzena yang sering juga disebut “pelarut lemak”; (2) ada hubungan dengan asam-asam lemak atau esternya; (3) mempunyai kemungkinan digunakan oleh makhluk hidup. Berdasarkan pada sifat fisika tadi, lipid dapat diperoleh dari hewan atau tumbuhan dengan cara ekstraksi menggunakan alkohol panas, eter atau pelarut lemak yang lain.
Suatu senyawa dapat larut dalam pelarut tertentu apabila mempunyai polaritas yang sama. Senyawa non polar akan larut dalam pelarut non polar, dan lemak merupakan senyawa non polar sehingga senyawa ini mudah larut dalam pelarut non polar, seperti kloroform, karbon disulfida, karbon tetraklorida, dan sebagainya. Kelarutan dari lemak perlu diketahui untuk menentukan dasar pemilihan pelarut dalam pengambilan lemak dengan ekstraksi lemak dari bahan yang diduga mengandung lemak. Penentuan kolesterol dari berbagai bahan makanan menjadi sangat penting mengingat (1) perhatian terhadap kesehatan yang menyangkut artegonik  plasma dan diet seseorang dan yang ke(2) adalah berkaitan dengan label pada makanan. Oleh karena itu penentuan kadar lipid pada suatu makanan menjadi penting, sehingga dilakukkannya praktikum ekstraksi dan pemisahan lipid kompleks ini.

B.  Permasalahan
Dari pemaparan di atas, timbul permasalahan yang selanjutnya akan dikaji dalam praktikum ini, yaitu
1.    Bagaimana cara memisahkan komponen lipid dari suatu lipid kompleks?
2.    Berapa banyak fraksi yang dapat diperoleh dari pemisahan lipid?
C.  Tujuan
Dari permasalahan yang diajukan, maka tujuan praktikum ini yaitu untuk melakukan ekstraksi lipid kompleks dari otak sapi.
D.  Manfaat
Manfaat yang diperoleh dari praktikum  ini, antara lain :
1.    Dapat mengetahui cara memisahkan komponen lipid dari suatu lipid kompleks.
2.    Dapat memperoleh banyak fraksi dari pemisahan lipid kompleks.


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A.  Lipid
Lipid adalah zat yang termasuk senyawa heterogen yang terdapat dalam jaringan tanaman dan hewan, mempunyai sifat tidak larut dalam air dan larut dalam pelarut organik seperti ether, kloroform dan benzena. Salah satu kelompok yang berperan penting dalam nutrisi adalah lemak dan minyak. Lemak tersimpan dalam tubuh hewan, sedangkan minyak tersimpan dalam jaringan tanaman sebagai cadangan energi.
Lipid merupakan salah satu komponen esensial yang mampu meningkatkan aktivitas degradasi desaturase (Panji et al., 2002). Lipid juga sebagai sumber energi metabolik yang sangat penting dalam pembentukkan ATP. Lipid adalah kelompok nutrien yang sangat kaya energi. Perbandingan nilai energi lipid dengan zat-zat gizi adalah sebagai berikut :
Lipid 9,5 kkal/g
Protein 5,6 kkal/g
Karbohidrat 4,1 kkal/g
Berdasarkan hal tersebut, lipid dapat digunakan sebagai pengganti protein yang sangat berharga untuk pertumbuhan, karena dalam keadaan tertentu, trigliserida (fat dan oil) dapat diubah menjadi asam lemak bebas sebagai bahan bakar untuk menghasilkan energi metabolik dalam otot ternak, khususnya unggas dan monogastrik.


Berdasarkan ada tidaknya alkohol gliserol, lipid dibagi ke dalam :
(Abun, 2009)
            Kolesterol adalah salah satu jenis lipid (steroid) yang mengambil perhatian yang sangat banyak dikarenakan dampak buruk yang diakibatkannya terhadap kesehatan, yakni dapat mengakibatkan obesitas, terganggunya sistem metabolisme hingga dapat menyebabkan stroke dan serangan jantung. Adapun struktur dari kolesterol adalah sebagai berikut:
 (Rahmat, 2010).
Penentuan kolesterol dari berbagai bahan makanan menjadi sangat penting mengingat (1) perhatian terhadap kesehatan yang menyangkut artegonik  plasma dan diet seseorang dan yang ke(2) adalah berkaitan dengan label pada makanan (Hurst, 1982).
B.  Pemisahan dan Ekstraksi
Lipid adalah nama suatu golongan senyawa organik yang meliputi sejumlah senyawa yang terdapat di alam yang semuanya dapat larut dalam pelarut-pelarut organik tetapi sukar larut atau tidak larut dalam air. Pelarut organik yang dimaksud adalah pelarut organik non polar, misalnya benzene, pentane, dietil eter dan karbon tetraklorida. Dengan pelarut-pelarut tersebut lipid dapat diekstrak dari sel dan jaringan tumbuhan ataupun hewan (Abun, 2009).
Dalam meggunakan pelarut, sebaiknya digunakan aseton karena lebih aman bagi kesehatan dibandingkan pelarut-pelarut di atas, dimana aseton memiliki toksisitas yang lebih rendah (1000 ppm) dibandingkan pelarut benzena (8 ppm), kloroform (10 ppm) dan toluena (200 ppm) (Reichardt, 1988 dalam Sari et al., 2004).
C.  Destilasi
Destilasi merupakan suatu proses pemisahan dua atau lebih komponen zat cair berdasarkan pada titik didih. Secara sederhana destilasi dilakukan dengan memanaskan/menguapkan zat cair lalu uap tersebut didinginkan kembali agar menjadi cairan dengan bantuan kondensor. Dalam proses destilasi, suatu metode pemisahan bahan kimia berdasarkan perbedaan kecepatan atau kemudahan menguap (volatilitas) bahan. Dalam destilasi, campuran zat dididihkan sehingga menguap dan uap ini kemudian didinginkan kembali kedalam bentuk cairan, zat yang memiliki titik didih rendah akan menguap lebih dulu (Anwar, 1994).
Destilasi dilaksanakan dalam praktek menurut salah satu atau lebih/dua metode utama. Metode pertama didasarkan atas pembuatan uap dengan mendidihkan campuran zat cair yang akan dipisahkan dan mengembunkan (kondensasi) uap tanpa ada zat cair yang kembali kedalam bejana didih. Jadi tidak ada refluks. Metode kedua didasarkan atas pengembalian sebagian dari kondensat ke bejana didih dalam suatu kondisi tertentu, sehingga zat cair yang dikembalikan ini mengalami kontak akrab dengan uap yang mengalir keatas menuju kondensor (Harjadi, 1990).

           


BAB III
METODE PERCOBAAN
A. Waktu dan Tempat Percobaan
Percobaan ini dilaksanakan pada hari Jum’at 18 November 2010 bertempat di Laboratorium Kimia Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Haluoleo Kendari, Sulawesi Tenggara.
B. Alat dan Bahan
1.    Alat Praktikum
Alat-alat yang digunakan pada praktikum ini yaitu blender, gelas ukur, gelas kimia, corong, batang pengaduk, kertas saring, alumunium foil, erlenmeyer, seperangkat alat destilasi, elektromantel dan masker.
2.    Bahan Praktikum
Bahan yang digunakan pada praktikum ini yaitu otak sapi, dietileter, aseton, klorofom, methanol dan etanol.


C.  Prosedur Kerja
1. Fraksi I
 

- Diblender dengan 200 mL aseton selama 1 menit
- Dituang dalam gelas kimia
- Dibilas sisa-sisanya pada gelas beaker dengan aseton 100 mL
- Dipekatkan hingga jumlah volume 50 ml dengan metode destilasi sederhana
- Disaring
 



-    Disimpan dalam erlenmeyer                                    

 


-   dicampur
-   didestilasi untuk menghilangkan asetonnya
-   didiamkan hingga dingin
-   disaring
Rounded Rectangle: Filtrat Rounded Rectangle: Residu (kumpulan kolesterol)
 


-     dikeringkan diudara terbuka
-     ditimbang
-    
% fraksi I = 0,494%
 
dihitung % fraksi


2.      Rounded Rectangle: Residu (dari perc. sebelumnya)Fraksi II
 

- Dimasukkan  dalam gelas kimia
-    Diekstraksi dengan  200 mL dietileter
-    Dibiarkan selama 5 menit sambil kadang-kadang diaduk
-    Disaring
Rounded Rectangle: Filtrat dietileter Rounded Rectangle: Suspensi
 


-       Dipekatkan hingga V = 50 mL
 


-       Dimasukkan ke dalam gelas kimia yang  berisi 100 mL aseton
-       Diaduk
-       Disaring
 



-    Dikeringkan
-    Ditimbang
 


-    Dilarutkan dalam campuran kloroform : metanol (3 : 1)
-    Dicatat warna larutan
-    Dihitung % fraksi II
% fraksi II = 3,092%
 
 



3.      Rounded Rectangle: Residu dari Fraksi IIFraksi III
 

-    diekstraksi dengan etanol mendidih (50 mL)
-    dipanaskan
-    dipekatkan
-    disaring
 


-    Rounded Rectangle: Endapan 2,572 grdikeringkan hingga membentuk endapan
 

-    dilarutkan dalam campuran kloroform : metanol (3 : 1)
-    dihitung % fraksi III
% fraksi III = 5,114%
 
 



BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
A.    Hasil Pengamatan
1.      Fraksi I
Dik: Berat kertas saring kosong         = 1,085 gram
               Berat kertas saring + residu       = 1,332 gram
               Berat residu                                = 0,247 gram
               Warna residu                              = Orange (kekuning-kuningan)
      Dit    : % Fraksi I = …?
      Peny :       
                                      =
                                      = 0,494%
2.      Fraksi II
Dik: Berat kertas saring kosong         = 1,106 gram
               Berat kertas saring + residu       = 2,652 gram
               Berat residu                                = 1,546 gram
               Warna residu                              = Kuning pucat
      Dit    : % Fraksi II = …?
      Peny :            
                                        = 3,092%


3.      Fraksi III
Dik: Berat kertas saring kosong         = 1,093 gram
               Berat kertas saring + residu       = 3,665 gram
               Berat residu                                = 2,572 gram
               Warna residu                              = Krem
      Dit    :% Fraksi III = …?
      Peny :    
                                         =
                                         = 5,114%
B.     Pembahasan
Ekstraksi dan pemisahan lipid kompleks sangat erat kaitannya dengan karakteristik lipid itu sendiri, secara garis besar lipid yang umum dikenal adalah lemak dan minyak. Lemak terdiri dari asam lemak jenuh dan bersumber dari hewan sedangkan minyak tersusun atas asam lemak tak jenuh yang bersumber dari tanaman. Lipid sendiri memiliki kelarutan yang sangat buruk dalam air, meskipun ia bersifat amfipatik (memiliki gugus polar dan non polar) akan tetapi sifat amfipatik saja belum cukup untuk dapat larut dalam air. Dari pernyataan tersebut kita dapat menyimpulkan bahwa lipid akan lebih larut pada pelarut dengan kepolaran rendah (<1) seperti pelarut-pelarut organic non-polar yakni aseton, kloroform dan lainnya.
Pada dasarnya kata ekstraksi berarti menarik suatu komponen dengan pelarut tertentu dari suatu zat berdasarkan kepolaran komponen tersebut, sehingga hasil akhir dari metode pemisahan ekstraksi ini adalah komponen-komponen yang terdapat pada sampel, khususnya kolesterol yang sudah lama menjadi polemik besar di dunia kesehatan.
Untuk perlakuan pertama sampel harus dilarutkan dalam pelarut aseton, sampel yang digunakan dalam percobaan ini adalah otak sapi segar, sehingga tidak susah untuk dihancurkan dan dilarutkan dengan blender. Pelarut aseton yang digunakan memiliki dampak yang cukup buruk bagi kesehatan, sehingga praktikan disarankan untuk mengenakan masker dalam melaksanakan percobaan. Penghancuran sampel memiliki fungsi agar proses ekstraksi terjadi dalam proses yang cepat, sampel yang hancur memiliki luas permukaan yang lebih besar sehingga akan lebih mudah bagi pelarut untuk menarik komponen-komponen tertentu dari sampel.
Selanjutnya ekstrak dipekatkan dengan metode destilasi sederhana pada suhu sekitar 72oC, sebenarnya ada beberapa metode lain yang dapat digunakan untuk memekatkan ekstrak, namun metode destilasi memiliki nilai tambah tersendiri yakni dapat menghasilkan destilat yang dapat digunakan kembali sebagai pelarut (aseton).  Destilasi digunakan untuk memurnikan zat cair, yang didasarkan atas perbedaan perbedaan titik didih cairan. Pada proses ini cairan berubah menjadi uap. Uap ini adalah zat murni. Kemudian uap ini didinginkan. Pada pendinginan ini, uap mengembun menjadi cairan murni yang disebut destilat. Destilat dapat digunakan untuk memperoleh pelarut murni dari larutan yang mengandung zat terlarut.
Dalam percobaan ini lipid kompleks (lipid yang bergabung dengan molekul lain) akan dipisahkan menjadi 3 fraksi yang berbeda. Ada beberapa macam perlakuan yang diberikan pada sampel agar menghasilkan 3 fraksi tersebut, antara fraksi satu dan lainnya memiliki perlakuan yang berbeda-beda dan kami sarankan Anda membaca prosedur kerja untuk lebih jelasnya. Namun dapat kami analisa bahwa ketiga fraksi tersebut dipisahkan berdasarkan perbedaan kepolaran larutan yang digunakan. Pada fraksi I digunakan aseton sebagai larutan pengekstrak dan didapatkan fraksi berwarna orange atau jingga, berbeda dengan fraksi II yang menggunakan pelarut yang lebih nonpolar yakni dietil eter, fraksi II yang didapatkan berwarna kuning pucat dari hal ini nampaknya pada fraksi II telah diekstrak komponen yang lebih non-polar, dan kami menyimpulkan fraksi II yang ditemukan adalah kolesterol. Selanjutnya endapan yang diperoleh pada fraksi kedua ini dilarutkan dalam campuran kloroform dan metanol (3:1), hal ini dilakukan untuk melindungi lipid agar tidak terksidasi diudara, karena sifat lipid yang mudah teroksidasi. Metanol yang digunakan berfungsi untuk melindungi gugus OH dari kolesterol, sedangkan kloroform berfungsi untuk melindungi rantai hidrokarbonnya agar tidak mudah teroksidasi. Adapun struktur kolesterol dapat Anda lihat sebagai berikut:
Untuk memperoleh Fraksi III, residu dari fraksi II diekstraksi dengan pelarut etanol, selain itu endapan yang diperoleh dilarutkan dengan campuran kloroform dan methanol dengan perbandingan 3 : 1. Dalam fraksi III ini suspensi yang diperoleh langsung dipekatkan tanpa melakukan penyaringan, karena filtrat yang diperoleh sangat sedikit. selanjutnya suspensi dikeringkan hingga membentuk endapan. Fraksi III berwarna krem.
Secara teoritis, otak sapi merupakan lemak netral, lemak netral disebut juga asil gliserol atau gliserida. Lemak ini merupakan komponen utama lemak simpanan pada sel-sel hewan, terutama pada jaringan adiposa. Otak sapi juga termasuk asam lemak tak jenuh, asam lemak tak jenuh mempunyai titik cair yang lebih rendah. Asam ini merupakan suatu senyawa organik berantai panjang yang mempunyai atom karbon dari 4 sampai 24 dan memeiliki gugus karboksil tunggal dan ekor hidrokarbon non polar yang panjang yang menyebabkan kebanyakan lipida bersifat tidak larut dalam air.  Struktur asam lemak tak jenuh berotasi kaku karena adanya rantai ikatan rangkap. Sifat asam lemak tak jenuh ditentukan oleh rantai hidrokarbonnya, asam lemak berantai mengandung 1 sampai 8 atom karbon berupa cairan sedangkan labih dari 8 atom berupa padatan.
Ketiga fraksi yang diperoleh kemudian disimpan sebagai bahan amatan untuk praktikum selanjutnya, yakni karakteristik lipid.      


BAB V
PENUTUP
A.     Kesimpulan
Dari hasil percobaan yang dilakukan diketahui persentase masing-masing fraksi (I, II, dan III) berturut-turut adalah: 0,494%; 3,092 % dan 5,114%. Hasil tersebut menunjukkan banyaknya lipid yang terkandung dalam sampel otak sapi.



DAFTAR PUSTAKA
Abun, 2009, Diktat Kuliah Biokimia Judul Lipid, Universitas Padjadjaran, Ponorogo.

Anwar,C,.1994. Penuntun Praktikum Kimia Organik. FMIPA Universitas Gajah Mada. Yoyakarta.

Harjadi, 1990. Ilmu Kimia Analitik Dasar. PT Gramedia. Jakarta

Hurst, W Jeffry; M. D. Aleo dan Robert A. Martin, Jr, 1982, High Perfomance Liquid    Chromatography Analysis of Cholesterol in Milk, Hershey Food and            Technical Center, J Dairy Sel 66: 2192 – 2194.

Rahmat, Mifta N., 2010, Kolesterol, http://duniainikecil.wordpress.com

Reichardt, C. 1988. Solvents and Solvent Effects in Organic Chemistry. VCH Verlags Weinheim, Germany.

Tri-Panji, Suharyanto, A. W. Paulus, K. Syamsu & A. M. Fauzi, 2002, Produksi dan        Stabilisasi Desaturase dari Absidia corymbifera, Menara Perkebunan, 70(2),         58-71

Rita Kartika Sari, Wasrin Syafii, Kurnia Sofyan dan Muhammad Hanafi, 2004, Sifat Antirayap Resin Damar Mata Kucing dari Shorea javanica K. et V. J. Ilmu & Teknologi Kayu Tropis Vol. 2 • No.1 •

No comments: