radio muadz 94,3 fm kendari

radio muadz 94,3 fm kendari
radio muadz 94,3 fm kendari

February 02, 2011

Daya Kerja Anti Mikroba

I.                   JUDUL
Praktikum ini berjudul “Daya Kerja Antimikroba”
II.                TUJUAN
Tujuan dari praktikum ini adalah untuk mengetahui cara kerja pengujian oligodinamik dan zat antimikroba.
III.             PRINSIP DASAR
Antibiotika adalah senyawa kimia khas yang dihasilkan atau diturunkan oleh organisme hidup, termasuk struktur analognya yang dibuat secara sintetik, yang dalam kadar rendah mampu menghambat proses penting dalam kehidupan satu spesies atau lebih mikroorganisme. Pada awalnya antibiotika diisolasi dari mikroorganisme, tetapi sekarang beberapa antibiotika telah didapatkan dari tanaman tinggi atau binatang (Soekardjo, 1995).

Suatu zat antibiotik kemoterapeutik yang idealnya hendaknya memiliki sifat-sifat sebagai berikut: harus mempunyai kemampuan untuk merusak atau menghambat mikroorganisme patogen spesifik. Makin besar jumlah dan macam mikroorganisme yang dipengaruhi makin baik. Tidak mengakibatkan berkembangnya bentuk-bentuk resiten parasit. Tidak menimbulkan efek sampingan yang tidak dikehendaki pada inang, seperti reaksi alergis, kerusakan pada saraf, iritasi pada ginjal atau saluran gastrointestin. Tidak melenyapkan flora mikroba normal pada inang. Gangguan terhadap flora normal dapat mengaucaukan ‘keseimbangan alamiah’ sehingga memungkinkan microbe yang biasanya nonpatogenik atau bentuk-bentuk patogenik yang semula dikendalikan oleh flora normal, untuk menimbulkan infeksi baru (Pelczar, 1988).
Antibiotika pertama kali ditemukan oleh Alexander Fleming pada tahun 1929, yang secara kebetulan menemukan suatu zat antibakteri yang sangat efektif yaitu penisilin. Penisilin ini pertama kali dipakai dalam ilmu kedokteran tahun 1939 oleh Chain dan Florey. Sebagian besar dari antibiotika rumus kimianya telah diketahui dan beberapa di antaranya dapat dibuat secara sintesis. Definisi dari antbiotik ialah suatu bahan kiia yang dikeluarkan oleh jasad renik/hasil sintetis semi-sintetis yang mempunyai struktur yang sama dan zat ini dapat merintangi/memusnahkan jasad renik lainnya (Widjajanti, 1996).
Antibiotik yang efektif bagi banyak spesies bakteri, baik kokus, basil maupun spiril, dikatakan mempunyai spektrum luas. Sebaliknya, suatu antibotik yang hanya efektif untuk spesies tertentu, disebut antubiotik yang spektrumnya sempit. Penisilin hanya efektif untuk memberantas terutama jenis kokus, oleh karena itu penisilin dikatakan mempunyai spectrum yang sempit. Tetrasiclin efektif bagi kokus, basil dan jenis spiril tertentu. Oleh karena itu tetrasiclin dikatakan mempunyai spectrum luas (Dwidjoseputro, 2003).
Burahol (Stelechocarpus burahol) termasuk keluarga Annonaceae. Kebanyakan suku ini dilaporkan mengandung senyawa sitotoksik, antimikroba, dan juga sebagai insektisidz (Kusmiyati, 2005).
Jenis bahan kimia pembersih dan sanitiser yang digunakan dalam industri pangan harus sesuai persyaratan yang ditetapkan. Bahan kimia harus mampu mengendalikan pertumbuhan bakteri (antimikroba). Senyawa antimikroba adalah senyawa kimia yang dapat menghambat pertumbuhan atau membunuh mikroba. Antimikroba dapat dikelompokkan menjadi antiseptik dan desinfektan. Antiseptik adalah pembunuh mikroba dengan daya rendah dan biasa digunakan pada kulit, misalnya alkohol dan deterjen. Desinfektan adalah senyawa kimia yang dapat membunuh mikroba dan biasa digunakan untuk membersihkan meja, lantai, dan peralatan. Contoh desinfektan yang digunakan adalah senyawa klorin, hipoklorit, dan tembaga sulfat.
Bahan kimia yang umum digunakan sebagai pembersih atau sanitiser dalam industry pangan biasanya mengandung klorin sebagai bahan aktifnya. Bahan kimia yang dapat digunakan untuk menghambat pertumbuhan mikroba disebut bahan pengawet (preservatif) (Afrianto, 2008). Asam benzoat adalah zat pengawet yang sering dipergunakan dalam saos dan sambal. Asam benzoat disebut juga senyawa antimikroba karena tujuan penggunaan zat pengawet ini dalam kedua makanan tersebut untuk mencegah pertumbuhan khamir dan bakteri terutama untuk makanan yang telah dibuka dari kemasannya (Lutfi, 2004).


IV.             CARA KERJA
1.      Rounded Rectangle: Media Nutrient AgarRounded Rectangle: Media Nutrient AgarPengujian zat antibiotik (ampicilin dan kunyit)
 











2.      Pengujian zat disinfektan (alkohol dan wipol)

 


3.      Pengujian pengaruh oligodinamik

 

V.                HASIL PERCOBAAN DAN PEMBAHASAN
1.      Hasil Percobaan
a.       Pengujian zat antibiotik (ampicilin dan kunyit)
Alkohol
 
Wipol
 
Kunyit
 
Ampicilin
 
Text Box: Diameter Ampicilin
Diameter 1  = 3,6 cm
Diameter 2 = 1,5 cm
Diemeter zona bening = D1 + D2
              2
 = 3,6 cm + 1,5 cm
                    2
                = 2,55 cm
Diameter Kunyit
Diameter 1  = 1,7 cm
Diameter 2 = 1,1 cm
Diemeter zona bening = D1 + D2
              2
 = 1,7 cm + 1,1 cm
                    2
                = 1,4 cm


b.      Text Box: Diameter Alkohol
Diameter 1  = 1,6 cm
Diameter 2 = 1,1 cm
Diemeter zona bening = D1 + D2
              2
 = 1,6 cm + 1,1 cm
                    2
                = 1,35 cm
Diameter Wipol
Diameter 1  = 1,3 cm
Diameter 2 = 0,5 cm
Diemeter zona bening = D1 + D2
              2
 = 1,3 cm + 0,5 cm
                    2
                = 0,9 cm

Pengujian zat disinfektan (alkohol dan wipol)
            


c.       Text Box: Diameter Uang logam
Diemeter zona bening = tidak terbentuk 


Diameter Zn
Diameter 1  = 1 cm
Diameter 2 = 0,7 cm
Diemeter zona bening = D1 + D2
              2
 = 1 cm + 0,7 cm
                2
                = 0,85 cm

Pengujian pengaruh oligodinamik


2.      Pembahasan
Antibakteri atau antimikroba adalah bahan yang dapat membunuh atau menghambat aktivitas mikroorganisme dengan bermacam-macam cara. Senyawa antimikroba terdiri atas beberapa kelompok berdasarkan mekanisme daya kerjanya atau tujuan penggunaannya. Bahan antimikroba dapat secara fisik atau kimia dan berdasarkan peruntukannya dapat berupa desinfektan, antiseptik, sterilizer, sanitizer dan sebagainya.
Pada praktikum ini, kemampuan suatu antimikroba dalam menghambat pertumbuhan bakteri akan dibandingkan dengan kemampuan antimikroba lain melalui modifikasi uji antimikroba metode Kirby-Bouer. Dalam metode Kirby-Bouer uji menggunakan lempengan antibiotika kertas saring yang diletakkan pada cawan yang telah berisi campuran medium NA dan biakan bakteri uji namun dalam metode modifikasi pada Cawan NA dilobangi dengan Crookbor dimana pada lubang tersebut akan dimasukkan zat antimikroba. Setelah itu penginkubasian dilakukan dalam suhu kamar selama 2 x 24 jam, dari hasil inkubasi tersebut akan terbentuk zona bening di media pertumbuhan. Zona bening ini terjadi karena antimikroba akan mengakibatkan pembentukan cincin-cincin hambatan di dalam area pertumbuhan bakteri yang padat sehingga tak ada bakteri yang tumbuh di dalam cincin tersebut. Keampuhan suatu antimikroba dapat dilihat dari seberapa besar zona bening yang terbentuk akibat berdifusinya zat antibiotika tersebut. Antimikroba yang berbeda memiliki laju difusi yang berbeda pula, karena itu keampuhan antimikroba satu tidak sama dengan antimikroba yang lain.
Mekanisme daya kerja antimikroba terhadap sel dapat dibedakan atas beberapa kelompok sebagai berikut: 1. Merusak dinding sel 2. Mengganggu permeabilitas sel 3. Merusak molekul protein dan asam nukleat 4. Menghambat aktivitas enzim 5. Menghambat sintesa asam nukleat Aktivitas anti mikroba yang dapat diamati secara langsung adalah perkembangbiakannya. Oleh karena itu mikroba disebut mati jika tidak dapat berkembang biak.
Pada dasarnya antimikroba dibagi menjadi 2 macam, yaitu antibiotik dan disinfektan. Antibiotik adalah senyawa yang dihasilkan oleh mikroorganisme tertentu yang mempunyai kemampuan menghambat pertumbuhan bakteri atau bahkan membunuh bakteri walaupun dalam konsentrasi yang rendah. Antibiotik digunakan untuk menghentikan aktivitas mikroba pada jaringan tubuh makhluk hidup sedangkan disinfektan bekerja dalam menghambat atau menghentikan pertumbuhan mikroba pada benda tak hidup, seperti meja, alat gelas, dan lain sebagainya. Pembagian kedua kelompok antimikroba ini tidak hanya didasarkan pada aplikasi penerapannya melainkan juga terhadap konsentrasi antimikroba yang digunakan.
Pada uji zat antibiotik digunakan zat antibiotik alami dan buatan. Zat anti biotic alami yang digunakan adalah kunyit, sedangkan zat antibiotic sintetik yang digunakan adalah ampicillin. Ampicilin termasuk golongan antibiotik penisilin. Ampicilin mempunyai sifat bakterisida penisilin normal, disebut antibiotika berspektrum luas karena antibiotik ini efektif terhadap banyak bakteri, baik gram-negatif maupun gram-positif, dan lebih aktif melawan infeksi bakteri gram negatif dan enterokokal. Sedangkan kunyit diberitakan memiliki aktivitas antibakteri yang cukup baik, namun dari hasil pengamatan yang diperoleh kunyit hanya membentuk zona bening sebesar 1,4 cm sedangkan ampicilin membentuk zona bening sebesar 2,55 cm. Dari hasil pengamatan tersebut dapat disimpulkan bahwa kedua zat ini memiliki aktivitas yang baik sebagai antibiotic, akan tetapi dari hasil tersebut dapat kita lihat bahwa ampicilin merupakan zat antibiotic yang lebih baik daripada kunyit.
 Uji selanjutnya adalah pengujian zat disinfektan, zat disinfektan yang diujikan adalah alcohol dan fenol yang terdapat di pembersih wipol. Bahan kimia yang mematikan bakteri disebut bakterisidal, sedangkan bahan kimia yang menghambat pertumbuhan disebut bakteriostatik. Bahan antimicrobial dapat bersifat bakteriostatik pada konsentrasi rendah, namun bersifat bakterisidal pada konsentrasi tinggi.
Dalam menghambat aktivitas mikroba, alcohol 50-70% berperan sebagai pendenaturasi dan pengkoagulasi protein, denaturasi dan koagulasi protein akan merusak enzim sehingga mikroba tidak dapat memenuhi kebutuhan hidupnya dan akhirnya aktivitasnya terhenti. Dari hasil pengamatan yang dilakukan zona bening yang dibentuk oleh alcohol ialah sebesar 1,35 cm. Senyawa fenol kerap digunakan dalam pembersih porselen karena memiliki aktivitas dalam menghambat pertumbuhan mikroba. Fenol memiliki aktivitas dalam merusak membran sel dan mendenaturasi protein. Dari hasil pengamatan, diketahui fenol membentuk zona bening sebesar 0,9 cm. Sekilas  dari hasil tersebut kita dapat menyimpulkan bahwa alcohol merupakan disinfektan yang baik karena membentuk zona bening yang lebh besar, namun hal ini tidak sepenuhnya benar karena perbedaan konsentrasi alcohol dan fenol yang digunakan sangatlah jauh, alcohol berkadar 50% sedangkan fenol dalam pembersih porselen hanya berkadar 0,5%.
Dalam praktikum ini dilakukan juga uji oligodinamik, uji oligodinamik berprinsip pada interaksi antara logam yang terionisasi dengan gugus sulfihidril pada protein sel yang menyebabkan denaturasi. Oligodinamik sendiri memiliki arti sebagai daya hambat atau mematikan dari logam terhadap makhluk hidup, sehingga variasi yang diberikan pada ujiini adalah logam. Logam yang digunakan adalah logam Zn dan uang logam, dari kedua logam ini yang membentuk zona bening hanya logam Zn sementara zona bening tidak terbentuk pada uang logam.
Dari ketiga uji tersebut dapat diketahui bahwa aktivitas antimikroba suatu senyawa kimia ditentukan oleh konsentrasi dan sifat dari bahan yang digunakan. Umumnya hampir semua senyawa kimia pada konsentrasi yang sangat tinggi dapat bersifat racun.  Namun dari ketiga uji tersebut tidak dapat diketahui KHM (Kadar hambat minimal) dan KBM (Kadar bunuh minimal) dari bahan antimikroba sehingga masih diperlukan studi tambahan terkait daya kerja antimikroba.
VI.             KESIMPULAN
Kesimpulan dari percobaan ini adalah ampicilin dan kunyit memiliki aktivitas yang baik untuk digunakan sebagai antibiotic, begitu pula dengan alcohol dan fenol (dalam kadar sedikit) dapat digunakan sebagai disinfektan, dan uang logam tidak membunuh bakteri.

DAFTAR PUSTAKA
Afrianto, Eddy, 2008, Pengawasan Mutu Bahan/Produk Pangan, Departemen Pendidikan           Nasional, Jakarta.

Dwidjoseputro, 2003. Dasar-Dasar Mikrobiologi. Djambatan: Jakarta.

Kusmiyati, Evi, 2005, Potensi Burahol Sebagai Komoditi Hasil Hutan Bukan Kayu Yang Terancam Punah, Info Hasil Hutan : Volume 11.No.1

Lutfi, Ahmad, 2004, Kimia Lingkungan, Departemen Pendidikan Nasional, Jakarta.

Pelczar, 1988. Dasar-Dasar Mikrobiologi 2. Universitas Indonesia Press, Jakarta.

Soekardjo, Siswandono B, 1995. Kimia Medisinal. Airlangga University Press, Jakarta.

Widjajanti, U, Nuraini, 1996. Obat-obatan. Kanisus, Yogyakarta.

Wilson & Gisvold, 1982. Buku Teks Wilson dan Gisvold Kimia Farmasi dan Medisinal Organik. IKIP Semarang Press, Semarang.


No comments: